Oleh: Syabaharza

Di Selatan sebuah pulau. Ada desa yang mata pencaharian masyarakatnya mengandalkan laut. Desa itu terkenal dengan hasil olahan udangnya menjadi campuran bumbu masak. Di desa itu masyarakatnya sudah terbiasa menjadikan udang sebagai bahan utama komoditi yang menghasilkan cuan.

Udang-udang itu langsung diambil dari laut. Hasil olahan udang itu mereka sebut dengan terasi. Terasi hasil olahan masyarakat desa itu sudah terkenal di daerah itu bahkan sampai ke luar daerah. Mereka pun tidak bersusah payah dalam memasarkan hasil olahan mereka, karena biasanya para pembeli akan datang sendiri menghampiri. Rasa dan keaslian bahan yang dipakai membuat terasi dari desa mereka selalu menjadi pilihan utama.

Para pembeli biasanya berburu komoditi tersebut. Bahkan sudah sering komoditi tersebut dijadikan sebagai buah tangan dari pendatang jika pulang dari desa itu. Alhasil karena komoditi andalan itu, desa tersebut menjadi terkenal dan selalu dicari oleh para pelancong. Tujuan para wisatawan itu hanya satu yaitu berburu komoditi yang mempunyai bau khas tersebut. Dan tidak bisa dipungkiri juga bahwa komoditi yang berwarna kecoklatan itu juga yang mendongkrak ekonomi masyarakat desa tersebut.

*****

“Besok pagi-pagi ayah akan ke laut”

Seorang laki-laki setengah baya berbicara kepada istri dan seorang anak laki-lakinya yang berusia 13 tahun. Sambil memperbaiki sebuah alat yang terbuat dari jaring dan kayu. Alat itu sering disebut warga desa dengan sebutan Sungkur atau di daerah lain ada yang menyebutnya jaring Sudu.

Baca Juga  Ketua DPRD Babel Minta Daftar Nama Calon Pj Kepala Daerah Dibuka ke Publik

Alat itulah yang akan digunakan untuk mencari udang di laut. Udang-udang yang ditangkap biasanya kecil-kecil. Karena udang-udang jenis itulah yang sangat bagus untuk dijadikan bahan membuat terasi. Warga desa itu menyebutnya dengan udang sungkur, mungkin karena alat yang digunakan bernama sungkur. Padahal kalau sebutan aslinya udang rebon atau udang kecil yang memang biasa hidup di daerah laut Asia Tenggara. Udang dengan nama latin Acetes itu akan diproses lebih lanjut sehingga bisa menjadi terasi yang menarik dan lezat untuk dinikmati.

“Kebetulan sedang musim hujan, pasti akan mendapatkan banyak udang”

Lelaki itu mengungkapkan alasannya. Karena menurut perhitungan jika hujan turun maka dengan mudah mendapatkan udang. Walaupun tantangannya harus siap menahan rasa dingin dan harus siap juga kehujanan.

“Aku ikut ya Yah?”

Anak laki-laki yang masih duduk di kelas 6 sekolah dasar itu sedari tadi memperhatikan ayahnya dan merasa penasaran untuk melihat proses penangkapan udang sungkur sehingga menawarkan diri untuk ikut berburu udang di laut.

“Besok kan aku sudah kembali ke sekolah”

Sang anak kembali melanjutkan ucapan. Sekali ini ia ingin meyakinkan sang ayah bahwa jika ia ikut tidak akan mengganggu agenda sekolahnya. Karena selama ini ia selalu dilarang oleh sang ayah lantaran waktu itu sekolah belum lemakr dan ayahnya takut proses pembelajaran anaknya terganggu.

Baca Juga  Baliho Ganjar-Mahfud di Pangkalpinang Dirusak OTD, PDIP Lapor ke Bawaslu

Sang ayah menoleh ke arah sang emak. Sang emak memberikan isyarat dengan senyum manisnya. Mendapat kode positif dari sang istri, lelaki setengah baya itu pun memberikan restu kepada anak laki-lakinya itu.

“Horeee”

Anak laki-laki yang bernama Aran itu tampak sangat exited, karena baginya ini adalah pengalaman pertamanya ikut menangkap udang sungkur. Baginya izin dari sang ayah itu merupakan suatu karunia yang luar biasa. Dengan demikian ia akan tahu proses penangkapan udang sungkur dan yang paling penting rasa penasarannya akan segera hilang.

“tapi, kau besok jangan jauh-jauh dari ayahmu” emaknya menitip pesan kepada Aran. Pesan itu juga sebagai wujud rasa sayang sang emak ke anaknya.

“Baik Mak”

Aran biasa memanggil ibunya dengan sebutan emak. Sebuah panggilan yang biasa untuk ibu-ibu yang ada di desa itu. Aran masih belum bisa menutupi kegembiaraannya, dia terus sumringah. Bagi Aran mengisi liburan dengan membantu ayahnya kelaut merupakan sebuah cerita yang indah. Sebuah cerita yang bisa dibagikan kepada teman-temannya ketika masuk sekolah nanti.

Kebetulan masa liburan sekolah sudah tiba, sehinga Aran dapat dengan leluasa ikut membantu sang ayah melaut sambil menikmati lemakr sekolah. Lebih kurang dua minggu ke depan Aran akan menjadi anak laut yang berteman dengan ombak dan pasir. Sekaligus ia bisa mengistirahatkan otak dan pikirannya dari hiruk pikuk pelajaran di sekolah.

Baca Juga  Pemprov Babel Terima Bantuan Sapi Kurban Seberat 1 Ton dari Presiden Jokowi

*****

“Itu bukan terasi kita.”

Salah seorang pria bertopi memakai celana pendek bertelanjang dada berbicara dengan pengunjung di sebuah warung kopi pinggir pantai. Warung kopi itu tampak sederhana, di depannya ada sebuah etalase yang sederhana juga, di dalam etalase itu terdapat terasi yang sudah dikemas dan siap dipasarkan. Sebuah tulisan yang merupakan label terasi itu menempel di bungkus terasi.

“Iya betul itu, selama ini terasi kita selalu asli”

Salah seorang lelaki tua dengan rambut sudah beruban menimpali.

“Sepertinya mereka itu salah mengambil sampel”

Seorang pria berambut cepak juga ikut menimpali sambil ia memakan kue yang terbuat dari ubi kayu.

“Ini tidak bisa dibiarkan, bisa tercemar nama baik produk kita”

Pemilik warung kopi pun tidak ketinggalan memberikan opininya.

Ayah Aran masih saja diam, tetapi ia tetap mengikuti perbincangan para bapak tersebut. Sambil menghirup kopinya, ayah Aran memikirkan langkah apa yang harus mereka lakukan agar bisa meyakinkan pembeli bahwa terasi mereka memang masih asli dan tidak dicampur dengan bahan-bahan berbahaya.

Pembicaraan itu mengemuka ketika sehari sebelumnya ada sebuah pemberitaan yang menyatakan bahwa terasi mereka mengandung bahan berbahaya seperti boraks dan sejenisnya.