Sambal Terasi Emak Aran
Hasil pemberitaan itu didapat setelah dinas terkait melakukan uji laboratorium terhadap sampel terasi. Dari beberapa sampel yang diuji ternyata terasi dari desa mereka dianggap mengandung pewarna tekstil. Jelas pemberitaan itu membuat ketar ketir warga desa yang memang mengandalkan terasi sebagai sumber penghidupan.
“Bagaimana kalau kita menghubungi dinas itu, untuk melakukan tes kembali?”
Ayah Aran mencoba memberikan usul kepada jamaah perkopian tersebut.
“Nanti kita serahkan terasi asli kita untuk dites”
Seluruh peserta yang hadir dalam forum perkopian merasa usul ayah Aran sangat realistis, sehingga mereka setuju.
“Nanti aku yang akan mendatangi dinas terkait untuk meminta datang ke desa kita”
Seorang pemuda yang juga peserta rapat menawarkan diri.
“Bagaimana, setuju?”
“Setujuuuuuuu”
Dengan adanya mufakat dari seluruh peserta, maka mereka menentukan hari apa untuk mengundang dinas terkait. Dinas terkait akan mereka minta untuk melakukan tes ulang terhadap terasi asli desa mereka. Hasil dari tes itu tentunya akan menjadi masa depan mata pencaharian mereka.
Jika memang benar terasi mereka sudah terkontaminasi maka mereka harus rela menerima konsekuensinya dan juga mereka harus mencari tahu siapa yang sudah bermain-main mencemarkan nama baik produk desa mereka, namun jika ternyata dari hasil tes didapatkan terasi mereka memang masih asli, tentu mereka akan mengklarifikasi ke media agar nama baik terasi mereka kembali pulih.
*****
Siang itu Aran dan teman-teman sudah berkumpul. Hari itu mereka memutuskan untuk menghabiskan waktu berlemakr di rumah saja. Mereka sepakat ingin menikmati kuliner yang demakat oleh emak Aran. Ada tiga teman Aran yang sudah hadir, satu teman bertubuh pendek dengan rambut ikal dan gigi depan hilang satu. Satu lagi bertubuh agak gempal, kulit sedikit hitam, dan satu lagi bertubuh tinggi besar dengan perawakan sedikit seram.
Kondisi rumah Aran yang semerawut bukan menjadi alasan untuk mereka tidak berkumpul. Pertemuan ini sengaja digagas oleh teman-teman Aran sebagai pertemuan terakhir sebelum mereka kembali ke sekolah beberapa hari lagi.
Di hadapan mereka sudah tersedia hidangan istimewa. Dari penampakannya makanan yang tersaji sangat lezat. Melihatnya saja terasa air liur menetes dengan sendirinya. Hidangan itu mengalahkan masakan yang demakat oleh chef terkenal yang ada di televisi. Walaupun minus susu, namun bagi mereka itu adalah masakan empat sehat lima sempurna.
Chef yang membuat hidangan istimewa itu adalah emak Aran. Jika soal masakan, maka tidak akan ada tandingannya. Masakan beliau sebenarnya tidak berbeda dengan masakan emak-emak yang lain, namun mungkin karena beliau memasak dengan cinta maka jadilah masakannya begitu luar biasa.
Hidangan istimewa itu terdiri dari nasi putih yang masih mengeluarkan asap karena baru saja diangkat dari kukusan. Asapnya menari-nari melewati hidung Aran dan kawan-kawannya, semakin membuat cacing dalam perut mereka meronta-ronta. Di sebelah nasi ada jengkol muda yang direbus dengan perhitungan yang matang, sehingga jengkol yunior itu benar-benar renyah untuk dikunyah.
Di tempat yang lain terlihat rebusan jantung pisang yang sangat menantang. Jantung pisang itu dipetik sendiri oleh emak Aran waktu beliau pulang dari sawah. Kemudian di sudut yang lain terlihat sambal yang sangat fenomenal, mereka sering menyebutnya sambal terasi. Sambal itu akan membuat selera makan menjadi meningkat, sehingga terkadang ketika seseorang diantara mereka sakit dan tidak nafsu makan, maka orang tua mereka akan membuat sambal tersebut untuk membangkitkan nafsu makan. Sambal terasi itu adalah yang paling istimewa. Sambal itu merupakan sesuatu yang wajib ada ketika mereka akan makan.
Sambal terasi adalah lauk khas desa mereka, sambal itu sering digunakan sebagai teman nasi ketika makan. Cara membuatnya sangat mudah. Siapkan terasi yang paling bagus lalu terasi tersebut dibakar.
Setelah itu siapkan bumbu pelengkap lainnya, seperti bawang merah dan cabai, selanjutnya campurkan terasi bakar tadi dengan bawang merah dan cabai ke dalam cobek, lalu diulek sampai halus dan menyatu. Level kepedasannya diserahkan kepada selera masing-masing. Itulah tutorial membuat sambal terasi yang disampaikan oleh emak Aran beberapa waktu yang lalu.
Terkait sejarah terbentuknya sambal terasi itu, emak Aran tidak menjelaskannya secara gamblang, namun beliau memberikan ilustrasi bahwa dahulu setiap pasangan suami istri mempunyai anggota keluarga yang banyak. Dahulu sebagian besar keluarga mempunyai enam sampai sembilan anak.
Banyaknya anggota keluarga itu membuat orang tua memutar otak ketika hendak membuat lauk makan. Ditambah saat itu harga ikan sangat mahal. Entah disengaja atau tidak muncullah ide untuk menambah lauk dengan sambal terasi tersebut. Harapannya semua anggota keluarga akan kebagian lauk ketika makan.
Makanya setiap keluarga di desa itu selalu bersama-sama ketika melakukan ritual makan. Jadi kata emak Aran, awalnya untuk menghemat lauk, lama kelamaan menjadi kebiasaan dan menjadi lauk favorit dalam setiap keluarga.
“Mari makan, ambillah nasinya”
Emak Aran mempersilakan mereka untuk menikmati hidangan sambil memberikan piring seng berwarna merah satu persatu.
Teman Aran yang bertubuh pendek dengan rambut ikal dan gigi depan hilang satu langsung mengambil nasi. Dua centong nasi mendarat di piringnya, kemudian dia mengambil lima butir jengkol dan sesendok sambal terasi dilabuhkan di piringnya. Kemudian teman Aran yang bertubuh agak gempal, kulit sedikit hitam, lebih garang lagi.
Tiga centong nasi memenuhi piringnya, sehingga nasinya berbentuk seperti gunung. Lima butir jengkol dan dua sendok sambal terasi menambah sarat piringnya. Lalu satu lagi teman Aran yang bertubuh tinggi besar dengan perawakan sedikit seram tidak mau kalah. Ia juga mengambil tiga centong nasi ditambah lima butir jengkol, dua sendok sambal terasi, setengah potong jantung pisang. Penampakan piringnya lebih gemoy dari piring kedua temannya tadi. Tinggal Aran yang mendapatkan jatah asobah. Sehingga semua yang tersisa langsung ditumpahkan ke piringnya.
Mereka menyantap masakan emak Aran dengan sangat lahap. Dalam sekejap piring-piring mereka sudah kosong. Semua menu yang diambil sudah mendarat dengan selamat di lambung mereka. Kemudian air putih yang sudah disiapkan emak Aran dalam gelas yang terbuat dari beling juga habis ditenggak. Dan secara bersamaan mereka mengeluarkan suara khas ketika orang sudah kenyang.
“.…heeeeek….”
Mereka pun tertawa secara bersamaan. Suatu kebahagiaan yang tulus. Mereka seolah ingin melepaskan beban yang ada dalam dada mereka. Mereka ingin melupakan sejenak bayangan perpisahan karena lemakr sekolah yang hampir selesai.
Emak Aran pun terlihat bahagia. Senyum manis tersungging dari bibirnya. Ia bahagia ketika melihat kebahagiaan mereka. Rasa lelah ketika menyiapkan hidangan istimewa untuk Aran dan kawan-kawannya menjadi sirna tatkala menyaksikan tawa riang itu. Di sudut rumah sang ayah juga tersenyum bahagia.
Beliau bahagia karena sudah bisa memberikan kebahagiaan kepada orang lain. Dan yang membuat beliau lebih bahagia lagi adalah pemberitaan di media massa sehari yang lalu. Pemberitaan itu menyebutkan bahwa terasi yang diperiksa oleh dinas terkait tempo hari ternyata sampelnya bukan terasi dari desa mereka, sehingga dengan demikian otomatis terasi desa mereka masih orisinil dan aman untuk dikonsumsi.
