Pulau Bangkai
Wangka……………., telah menebar daya pikat dan menjanjikan manisnya buah kehidupan
Seiring bergulir roda waktu Pulau Bangka telah menjadi objek pemerkosaan alam dengan mengatas namakan pendapatan dan rongga perut.
Derai air mata, pilu duka nestapa menyelimuti bengkaknya pelupuk mata
Desah tangis kesedihan, menghantarkan langkah-langkah kaki yang lemah lunglai ke ruang sempit di bawah gundukan tanah sebagai jalan menuju keabadian
Korban keserakahan atas rahmat dan karunia Illahi yang diabaikan
Di belahan waktu sebelah pintu, suara tawa terbahak bahak terlepas tanpa halangan
Merayakan kemenangan dan kebahagiaan dari upaya eksploitasi lahan yang diam, lugu dan tak kuasa untuk melawan
Lembaran cuan berserakan dari hasil penindasan alam yang merubah tubuh bumi menjadi hamparan bentuk yang tak beraturan.
Menangislah bumi, teraniayalah dikau sang pepohonan.
Dan………..hancurlah jernih sang gemulai riak air mengalir yang tak lagi terdengar.
Suara jangkrik yang melengking di malam sunyi telah berganti riuh reda kesibukan dan kesombongan nurani.
Suara merdu burung burung penghuni rimba telah hilang senya Berganti gemuruh suara mesin – mesin tambang yang tiada pernah lelah,
dari barisan urat – urat nadi tangan – tangan angkuh nan sombong
Hoiiiii……….Bangkaku
Hoiiiiii……….Bangka Belitung
Bangka Belitung………, seper empat abad telah berlalu
Kemarin, hari ini dan esok lusa belum mengarah satu titik penentu
Perjalanan waktu bukanlah perjalanan semu
Pulau Bangka nasibmu dalam sebuah bingkai ujian
Dari tangan tangan yang menobatkan diri sebagai tuan tuan
Dari bumi mu telah banyak melahirkan pertikaian
Segerahlah………
Ayo cepatlah……..
Untuk bermuhasabah, bertekad merekatkan akar – akar semangat yang hampir patah
Buka mata, telinga dan rasa
Tuk menghindari Pulau Bangka menjadi pulau bangkai
