Pemimpin dan Pembisik
Banyak yang menyampaikan kepada pemimpin dengan prinsip Asal Bapak Senang (ABS) yang mengakibatkan seorang pemimpin terjerumus dalam lembah kenistaan.
Dan gagal mengakhiri kepemimpinannya dengan jalan yang baik.
Kearifan dan kebijakan seorang pemimpin sangat ditentukan oleh orang-orang yang berada di sekitarnya. Kebijakannya akan sejalan dengan prinsip keadilan.
Itu dapat terjadi bila kolega atau pembantu terdekatnya adalah orang-orang yang bijak, yang tidak silau dengan segala gemerlap dunia.
Bukan pula sekadar mencari muka atasannya. Pemegang kekuasaan butuh pendamping dan orang-orang yang dapat memberi solusi terbaik dalam problem yang ada.
Alangkah buruknya bila pemimpin itu dikelilingi pembisik bermental buruk dan berjiwa aji mumpung, yang hanya bisa meniupkan ide-ide buruk yang menyengsarakan rakyat.
Pembisik bermulut bau enggan memberi nasihat bila atasannya berbuat khilaf, ia malah membiarkan hal itu dan dia mengaku siap pasang badan untuk memberi rasa aman untuk pemimpin.
Seorang kepercayaan pemimpin yang jujur pasti akan memberikan informasi yang benar terhadap pemimpinnya.
Tetapi seorang kepercayaan yang tidak jujur tentu akan memberikan informasi yang tidak benar kepada pemimpinnya yang membuat seorang pemimpin tersesat.
Orang yang terakhir ini lah biasanya yang selalu menghasut dan membisikkan informasi-informasi yang justru bukan memperkuat kepemimpinannya, melainkan justru akan menurunkan integritas kepemimpinannya.
Pada sisi lain, seorang pemimpin tidak besar kepala dengan kuantitas pengikut.
Untuk menjadi pemimpin dan pemuka, sudah barang pasti membutuhkan rakyat atau pengikut. Sehingga, sebisa mungkin mereka akan melakukan banyak hal untuk memperbesar dan memperbanyak jumlah pengikut tersebut. Ini agar otoritas dan hegemoni kekuasaannya meluas .
Secara umum manusia, bila memegang tampuk pimpinan, menjadi berbangga atas banyaknya pengikut dan luasnya cakupan wilayah.
Namun, jarang sekali yang menerawang lebih jauh ke depan, bahwa urusan kepemimpinan itu bukan urusan duniawi semata, melainkan juga menyangkut urusan ukhrawi.
Pemimpin yang hanya tertipu ilusi jumlah bilangan pengikut, namun lupa akan tugasnya, kelak pengikut-pengikutnya itu adalah musuh nyata yang menuntut pertanggungjawabannya di akhirat.
Pemimpin yang bermental penguasa dengan hanya memperbudak bawahannya, kelak di akhirat akan berlaku sebaliknya.
Perkara berat inilah yang harus menjadi perhatian serius bagi setiap pemimpin.
Kesuksesan seorang pemimpin sejati dalam memimpin hanya terjadi saat dia menjadikan rakyat sebagai pembisik sejati sebelum mengambil sebuah keputusan.
Keberhasilan seorang pemimpin dalam memimpin hanya teraplikasikan dengan baik, ketika suara rakyat yang tulus terdengar di jiwa pemimpin dan mengaplikasikan suara rakyat yang ikhlas untuk kepentingan kesejatian rakyat.
Bukan justru mendengar buah mulut dari bisikan mulut bau dari para pembisik dan orang-orang sekitar yang melingkari para pemimpin yang bisa membuat seorang pemimpin malu.
Dan kalau pemimpin malu, apakah para pembisik siap bertanggung jawab?
Bersilat lidah.
Kabur.
“Pemimpin tidak menciptakan pengikut, mereka menciptakan lebih banyak pemimpin.” (Tom Peters)
