Seperempat Abad Kepulauan Bangka Belitung: Antara Angka dan Arah Masa Depan
Dalam aspek demokrasi, Bangka Belitung justru mencatat prestasi yang menonjol. Indeks Demokrasi Indonesia (IDI) provinsi ini pada tahun 2024 mencapai 81,91, jauh melampaui target 2025 sebesar 77,50. Angka ini mencerminkan ruang kebebasan sipil yang relatif terjaga, partisipasi politik yang baik, serta institusi demokrasi yang cukup berfungsi. Demokrasi di Bangka Belitung, setidaknya dari sisi prosedural, telah melampaui ekspektasi perencanaan awal.
Hal serupa juga terlihat dalam kinerja birokrasi. Indeks Reformasi Birokrasi yang ditargetkan sebesar 70 pada tahun 2025, telah mencapai 84,37 pada tahun 2024. Ini menandakan adanya kemajuan dalam tata kelola pemerintahan, pelayanan publik, dan akuntabilitas birokrasi.
Meski demikian, reformasi birokrasi tidak boleh berhenti pada kepatuhan administratif, tetapi harus menjelma menjadi budaya kerja yang adaptif dan inovatif. Dan satu hall lagi, apakah hasil kerja tersebut memberikan dampak positif yang nyat pada mutu layanan dan kesejahteraan masyarakat.
Dalam hal pemerataan kesejahteraan, Indeks Gini Bangka Belitung justru menjadi yang terbaik di Indonesia. Dengan angka 0,244 pada tahun 2024, lebih baik dari target RPJPD 2025 sebesar 0,21. Bangka Belitung menunjukkan tingkat ketimpangan yang relatif rendah. Secara sederhana, kue pembangunan di daerah ini relatif terbagi lebih merata dibandingkan provinsi lain. Ini adalah capaian yang sering luput dari sorotan, padahal sangat fundamental bagi stabilitas sosial.
Sementara itu, kualitas lingkungan hidup juga mencatat capaian positif. Indeks Kualitas Lingkungan Hidup (IKLH) Bangka Belitung berada di angka 75,05, melampaui target 68,01. Di tengah tekanan eksploitasi sumber daya alam, capaian ini menunjukkan bahwa upaya menjaga keseimbangan ekologis masih menemukan jalannya, meski tantangan ke depan jelas tidak ringan.
Bagaimana Sektor Pariwisata?
Jika dilihat dari kontribusi terhadap PDRB, sektor pariwisata yang tercermin dalam sektor penyediaan akomodasi dan makan minum ternyata mengalami pertumbuhan yang cukup konsisten. Dari nilai Rp. 87,9 miliar pada tahun 2000 dengan kontribusi 1,53 persen, meningkat menjadi Rp. 3,47 triliun atau 3,87 persen pada tahun 2024. Angka ini menunjukkan bahwa pariwisata bukan lagi sektor pelengkap, melainkan mulai menjadi penggerak ekonomi alternatif.
Pariwisata di Bangka Belitung juga menunjukkan multiplier effect yang nyata. Ia mendorong pertumbuhan sektor transportasi dan pergudangan, perdagangan besar dan eceran, serta jasa lainnya. Sebaliknya, sektor transportasi, perdagangan, dan konstruksi menjadi penopang utama perkembangan pariwisata. Hubungan ini menegaskan bahwa pariwisata tidak bisa dibangun secara sektoral, melainkan melalui integrasi lintas sektor.
Ada tiga catatan penting tentang kinerja pariwisata Bangka Belitung. Pertama, ketahanannya di masa pandemi. Ketika banyak daerah mengalami kontraksi, sektor pariwisata Bangka Belitung justru masih tumbuh 4,1 persen pada periode 2019–2020. Kedua, akselerasi pasca pandemi dengan pertumbuhan sebesar 58,6 persen dalam empat tahun terakhir. Ketiga, stabilitas pertumbuhan yang relatif terjaga tanpa kontraksi signifikan selama 24 tahun terakhir.
Ke depan, strategi pengembangan pariwisata tidak cukup hanya mengandalkan promosi destinasi. Yang lebih penting adalah memperkuat integrasi transportasi dengan destinasi wisata, mengembangkan produk pariwisata yang mendorong belanja wisatawan, serta mengakselerasi pembangunan infrastruktur pendukung. Fokus pada ecotourism dan cultural tourism menjadi pilihan yang rasional, mengingat keunggulan alam dan budaya Bangka Belitung.
Namun, di atas semua itu, satu faktor penentu tidak boleh diabaikan: sumber daya manusia. Pariwisata yang berkelanjutan membutuhkan SDM yang tidak hanya terampil, tetapi juga memiliki visi, mampu membangun kolaborasi lintas sektor, dan memahami pariwisata sebagai ekosistem, bukan sekadar industri.
Hal lain yang tak kalah pentingnya adalah bagaimana instansi pengelolanya juga mesti fokus. Menggabungkan begitu banyak urusan dinas mungkin baik dari sisi anggaran, namun kinerja utama juga harus diperhatikan pula dengan baik. Jangan sampai karena ingin berhemat lalu kita kehilangan perhatian dan momentum. Utamanya upaya mendorong dan menggandeng semua kabupaten kota untuk bangkit Bersama.
Pada akhirnya, 25 tahun Bangka Belitung memberi kita satu pelajaran penting bahwa kita telah mencapai banyak hal, tetapi belum sepenuhnya menjawab pertanyaan tentang arah masa depan. Angka-angka memang penting, tetapi yang lebih penting adalah keberanian untuk menjadikan capaian itu sebagai pijakan transformasi.
Bagaimana mengelola dari ekonomi ekstraktif menuju ekonomi berkelanjutan. Dari pertumbuhan menuju kualitas. Dari kebanggaan masa lalu menuju kesiapan menghadapi masa depan. Ada satu cita-cita yang pernah dicetuskan oleh para pejuang pembentukan provinsi ini dulu yang masih sering terngiang. Menjadi Provinsi Teladan! Apakah mungin? itulah ujian kita selanjutnya. Salam takzim.
