Singgasana Tanpa Doa
Oleh: Ahmad Gusairi
Ketika singgasana ditempati hati yang membusuk
Jabatan tak lagi dibaca sebagai amanah
Ia berubah menjadi alat balas dendam
Palang pintu yang menutup telinga dari jerit rakyat
Kekuasaan berdiri tanpa wudhu nurani
Kata-kata suci dipinjam sekadar hiasan bibir
Nama Tuhan disebut
Namun keadilan ditinggalkan di lorong gelap
Kesombongan tumbuh seperti gulma di istana
Menutup cahaya akal dan empati
Ego membatu
Lebih keras dari nasihat, lebih dingin dari doa
Pejabat itu sibuk menghitung lawan
Bukan menghitung tangis
Sibuk menyusun intrik
Bukan menyusun harapan yang runtuh
Rapat-rapat digelar bak pasar kuasa
Suara ditinggikan bukan demi kebenaran
Kursi dipertahankan dengan saling menjatuhkan
Seolah kuasa adalah warisan, bukan titipan
Anggaran negara mengalir ke medan konflik
Waktu bangsa habis untuk dendam elit
Pelayanan publik tinggal jargon
Terkubur di bawah meja persekongkolan
Yang kritis dicurigai
Yang jujur disingkirkan perlahan
Perbedaan dianggap ancaman
Padahal ia rahmat dalam demokrasi
