Singgasana Tanpa Doa
Rakyat kecil datang dengan tubuh letih
Membawa sisa keyakinan pada negara
Namun yang menyambut adalah bentakan
Arogansi yang telanjang tanpa malu
Inilah paradoks paling telak
Pelayan rakyat lupa cara melayani
Kekuasaan bicara atas nama negara
Namun negaranya sendiri tak hadir
Jabatan lupa ia titipan Allah
Mandat rakyat diingkari tanpa rasa bersalah
Doa hanya gema kosong di podium
Tak pernah turun menjadi kebijakan
Sabar rakyat memang luas
Namun luka tak pernah benar-benar sembuh
Ia menumpuk, mengendap
Menjadi sunyi yang berbahaya
Sejarah, kitab paling jujur
Tak pernah tidur atau lupa
Ia mencatat dengan tinta waktu
Kesombongan selalu berakhir jatuh
Kekuasaan tanpa empati
Tak perlu musuh untuk runtuh
Ia menggali kuburnya sendiri
Pelan, angkuh, dan pasti
Saat singgasana kehilangan doa
Ia tinggal menunggu kehancuran
Tanpa hormat, tanpa pembela
Tanpa satu pun tangan yang sudi mendoakan
(Jakarta, 26 Desember 2025)
Penulis puisi adalah seorang pengajar SMA dan tinggal di Toboali Bangka Selatan
