Bukan yang Pertama
Oleh: Syabaharza
Beberapa hari ini Hutami sangat berbeda dari segi penampilan. Baju yang dipakai selalu rapi. Bau badannya juga sangat wangi. Rambutnya disisir rapi. Baju selalu dimasukkan ke dalam celana. Dari segi kedatangan di sekolah dia juga lebih pagi dari sebelumnya, ini kuketahui setelah kulihat dia lebih dulu datang dariku. Sungguh suatu metamorphosis yang sangat luar biasa. Apakah ini akibat dari cinta monyetnya. Apakah benar ketika orang jatuh cinta akan merubah segala yang ada pada orang tersebut.
Usahaku untuk menyampaikan niat Hutami belum juga berhasil sampai sekarang. Sebenarnya aku sudah berusaha dalam setiap kesempatan, tetapi selalu gagal. Aku sendiri sudah malu dengan Hutami.
Pernah aku sampai putus asa, sehingga menyuruh Hutami sendiri yang berbicara dengan Rutina. Tapi Hutami tidak berani, dia tetap menyuruh aku yang menyampaikannya. Dengan alasan bahwa aku dan Rutina sudah saling kenal dan sering melaksanakan kerja kelompok, maka peluang keberhasilan melaksanakan misi ada pada diriku.
*****
Hari itu pukul tujuh kurang lima menit, Hutami sudah berada di sekolah. Dengan pakaian rapi dia menunggu di depan kelas kami. Sesekali dia menoleh ke jalan raya.
Diperhatikannya satu persatu murid perempuan yang datang. Sesekali dia cemberut ketika melihat murid perempuan yang datang bukan yang diinginkannya. Lama dia menoleh ke jalan, matanya tidak berkedip memperhatikan warga sekolah yang datang.
Sampai jam masuk sekolah dia belum beranjak dari tempatnya semula. Dan akhirnya dia masuk kelas dengan kekecewaan. Rupanya murid perempuan yang dinantikannya hari itu tidak datang ke sekolah.
“Kemana dia?” Hutami bertanya kepadaku setelah kami duduk dalam kelas.
“Siapa?”
“Rutina”
Dengan sedikit kesal Hutami menjawab menjawab pertanyaanku, sementara matanya masih terarah keluar kelas.
“o..iya, dia tidak masuk hari ini?” Aku menjawab pertanyaan Hutami tapi dengan nada bertanya juga.
Ternyata hari itu Rutina tidak hadir ke sekolah.
Kami tidak mengetahui kabar beritanya. Apakah dia sakit. Apakah dia ada pekerjaan. Apakah dia sedang liburan, atau lagi ada sesuatu yang menimpahnya. Pertanyaan-pertanyaan itu terus menyerang kami.
Biasanya jika seorang murid tidak masuk sekolah, maka akan ada surat pemberitahuan ke sekolah tentang penyebab dia tidak masuk sekolah. Tapi, hari ini tidak ada pemberitahuan apapun ketika Rutina tidak masuk sekolah.
“bisa-bisa hari ini gagal lagi bertemu dengannya” Hutami bercakap sendiri dengan perasaan pesimistis.
Aku hanya diam. Aku berpikir bahwa memang benar yang dikatakan Hutami. Dengan ketidakhadiran Rutina hari ini, segala rencana kami untuk mempertemukan mereka bisa gagal total. Padahal kemarin kami sudah merencanakan pertemuan Rutina dan Hutami.
Rencana kami adalah langsung menemui Rutina ketika istirahat dimulai. Dan ketika sudah bertemu, nanti aku akan pergi menjauh. Aku akan mencari alasan agar bisa pergi dan meninggalkan mereka berdua. Di momen itulah nantinya Hutami akan mengutarakan niatnya.
Rencana itu kami susun dengan matang, karena ketika pulang sekolah kemarin Hutami menyatakan berani untuk mengungkapkan sendiri kemauannya. Hal ini meralat ucapannya tempo dulu, yang menyatakan bahwa dia tidak berani mengutarakan sendiri.
“Seperti ini saja.” Aku hendak menawarkan sebuah solusi kepada Hutami.
“bagaimana?” Hutami penasaran
“kau buat saja surat, tuliskan apa yang akan kau utarakan dalam surat itu.” Aku mengutarakan ide sebagai solusi.
“Surat?” Hutami terkejut
“iya, nanti kita kirimkan ke dia.” Aku melanjutkan ideku.
“siapa yang mau mengirimkannya?” Hutami kembali bertanya kepadaku
“kau sendiri,” Aku menjawab dan menyuruh Hutami
“waduh….terus terang aku masih belum berani,” Hutami kembali pesimistis.
Ternyata penyakit penakut Hutami kembali menjangkit. Terlihat dia bingung. Mungkin dia berpikir bahwa ideku memang yang paling logis untuk saat itu. Tapi dia juga ragu, apakah mempunyai nyali untuk mengantarkan surat love nya itu kepada cewek incarannya.
Hutami semakin gundah gulana. Hendak mundur tapi sudah terlalu jauh maju.
“baiklah, tapi temani ya” Akhirnya Hutami menyanggupi, tapi mengajukan syarat.
Aku berpikir sejenak.
“oke. Nanti kita berdua yang ke rumahnya.” Aku juga menawarkan syarat kepada Hutami.
Hutami tidak menjawab, tapi dia hanya mengacungkan jempol tangan kanannya.
*****
Hari itu adalah hari Minggu. Hari itu sekolah libur. Biasanya hari itu juga sebagian masyarakat yang bekerja di kota libur. Hanya ada sebagian petani yang masih bekerja.
Hari Minggu adalah saatnya masyarakat desa kami untuk pergi ke pasar tradisional. Pasar tradisional itu dinamakan Kalangan. Aneka ragam yang dijual di pasar tradisional tersebut. Mulai dari makanan ringan sampai makanan berat. Mulai dari peralatan mandi sampai peralatan bertani.
Hari itu aku dan Hutami sudah bersiap untuk pergi ke rumah Rutina. Momen itu sangat pas, karena sekalian kami mau pergi kalangan. Hutami akan menungguku di rumahnya, karena rumah Hutami satu arah ke kalangan.
Aku mengendarai sepeda menuju rumah Hutami. Sepeda yang kupakai adalah sepeda second kecil dengan rem depan memakai sandal jepit. Spakbor depan dan belakangnya sudah tidak ada lagi, sehingga jika melewati genangan air akan mengotori baju atau sepan. Pedalnya tinggal yang sebelah kanan, yang sebelah kiri tinggal besinya saja.
Aku terpaksa memakai sepeda butut ini, karena sepeda Federal yang dijanjikan orang tuaku ketika aku mau bersekolah dulu, ternyata tidak dibelikan. Alasan orang tuaku adalah tidak ada biayanya. Sebenarnya aku kecewa, tapi aku tetap menerimanya.
Aku sudah sampai di rumah Hutami. Hutami sudah menungguku dari pagi. Hutami mengenakan baju merah dan celana jeans merk Cardinal. Sandal yang dipakainya berwarna hitam bermek New Era. Hutami sangat rapi. Aku mafhum karena dia ingin bertemu gebetannya. Bau badannya sangat harum, perkiraanku dia memakai tiga bungkus mandom.
“bagaimana, kita berangkat sekarang?” Aku langsung mengajak Hutami yang sudah sangat siap.
“hayo” Hutami mengiyakan ajakanku.
Kami berdua berangkat dengan sepeda masing-masing. Aku masih dengan sepeda bututku yang tidak bermerek. Sedangkan Hutami memakai sepeda yang kuidam-idamkan selama ini, sepeda Federal yang ada tempat minumnya. Dengan santai kami mengayuh sepeda. Sesekali ada sepeda motor tukang ojek yang melewati kami. Sisa asapnya menyerang kami tanpa bisa kami hindari.
