Bukan yang Pertama
Jarak rumah Hutami dan Rutina tidak terlalu jauh, sehingga dalam hitungan menit kami sudah sampai di depan rumah Rutina. Sebenarnya Hutami sudah sering melewati rumah tersebut. Tapi dia baru tahu kalau itu rumah Rutina.
Kami berhenti di depan rumah yang cukup megah pada saat itu. Rumah yang dilindungi oleh pagar besi. Jarak antara pagar dan rumah cukup jauh, sehingga ketika berada di depan pagar penghuni rumah belum tentu bisa melihat tamunya.
Di dalam pagar banyak tanaman produktif, menambah kesan megah rumah tersebut. Perlu usaha yang ekstra agar kita bisa berjumpa dengan penghuni rumah. Usaha tersebut adalah membuka pagar rumah tersebut kemudian berjalan beberapa meter baru sampai ke depan rumah. Rumah ini berbeda dengan rumah-rumah di desa kami pada umumnya. Rumah ini berbentuk depok. Rumah ini juga bertingkat.
“selesai dari sini kita ke pasar, kita beli es kumbu.” Hutami berbicara kepadaku sambil kami berjalan menuju rumah tersebut.
Aku hanya menganggukkan kepala.
Es kumbu adalah jajanan favorit di pasar kalangan pada waktu itu, sehingga tidak afdol jika pergi ke kalangan tapi tidak membeli es kumbu.
“jangan khawatir, hari ini aku yang traktir.” Hutami masih terus berbicara.
Aku masih diam dan terus berjalan.
*****
“hari itu aku diajak ke kota oleh orang tuaku, aku lupa mengirimkan surat ke sekolah” Rutina membuka percakapan kami.
“o…ya. Pantas saja kami lihat kamu tidak ada di kelas.” Aku menimpali omongan Rutina.
Aku hanya berbincang berdua dengan Rutina. Setelah tadi berhasil menemui ayahnya. Dan ayahnya mengizinkan aku untuk mengobrol di teras rumah nya.
Kami hanya berbincang berdua, karena pada saat ayah Rutina keluar tadi, ternyata nyali Hutami kembali hilang diikuti hilangnya dia di belakangku. Tentu aku sangat kaget, ketika Rutina bertanya bersama siapa aku datang ke rumahnya. Sebenarnya aku ingin menjawab, bahwa aku bersama Hutami, namun ketika aku menoleh ke belakang ternyata tidak ada siapa-siapa.
Terpaksa aku berbohong bahwa aku datang sendiri. Tapi untungnya surat yang dibuat Hutami untuk Rutina sudah diberikannya kepadaku. Atau mungkin ini sudah rencananya. Aku sedikit kesal. Aku akan marahi dia jika bertemu nanti.
“Rut…. Ada yang mau aku berikan”
“Apa itu?” Rutina sedikit penasaran.
Aku mengeluarkan secarik kertas putih. Kertas buku tulis lebih tepatnya. Kertas itu dilipat sedemikian rupa. Berbentuk segi empat. Aku yakin Hutami memerlukan berjam-jam untuk melipat kertas itu. Di depan kertas ada tulisan dengan gaya miring, yang ditujukan kepada Rutina.
Kupegang kertas itu dan kuperlihatkan kepada Rutina. Dengan hati-hati kuserahkan kertas itu kepada Rutina. Kulihat Rutina tersenyum menerima kertas itu. Aku jadi yakin perasaan Hutami akan diterima.
“Terima kasih ya!” Rutina menerima kertas itu sambil tersenyum.
“Sama-sama. Itu dari Hutami” Aku menjelaskan asal kertas itu.
“O….dari Hutami?” kali ini kulihat wajah Rutina berubah, senyumnya yang tadi terlihat tiba-tiba hilang.
“Kau tunggu di sini dulu ya!”
setelah itu Rutina bangkit dari duduk dan masuk ke rumahnya.
Aku jadi bertanya-tanya, kenapa ekspresi Rutina berubah ketika mengetahui kertas itu berasal dari Hutami. Dan kenapa dia menyuruh aku menunggu di sini, tanpa membahas tentang isi kertas tersebut.
Beberapa detik kemudian Rutina kembali lagi ke lokasi diskusi kami.
“lihatlah ini” Rutina menyodorkan dua kertas yang hampir sama dengan kertas dari Hutami tadi.
“Itu surat yang sama dengan surat dari Hutami ini” Rutina menjelaskan dua buah kertas yang dibawanya tadi.
“Aku tahu, pasti surat dari Hutami itu sama saja isinya, hendak mengajak pacaran” Rutina terus menjelaskan.
“Kutolak semua kedua surat itu, karana aku belum mau pacaran, masih kecil, jadi perlakuan ku sama untuk surat Hutami”
“kedua surat itu dari teman kita juga, coba lihat nama mereka” Rutina terus berbicara tanpa bisa kucegah.
Kata-kata terakhir Rutina ini membuat aku tidak bisa berkata apa-apa. Nama kedua teman kami terakhir yang tertulis di kedua surat yang diterima Rutina, membuat aku hendak tertawa sekaligus iba. Ternyata selama ini kedua teman kami itu juga berusaha mendekati Rutina. Ternyata memang pesona Rutina membuat laki-laki kelas kami terpesona.
Aku menyangka Hutami adalah orang pertama yang hendak mendekati Rutina. Ternyata Hutami bukan yang pertama.
“Jadi, tolong sampaikan ke Hutami, kita berteman saja.” Rutina meminta kepadaku untuk menyampaikan pesannya kepada Hutami.
“okelah”
Aku mengabulkan pinta Rutina sambil berpamitan untuk pulang.
*****
Di bawah pohon kulihat Hutami melambaikan tangannya ke arahku. Aku menyangka dia sudah pulang ke rumah atau sedang menikmati es kumbu di kalangan. Ternyata dia masih setia menungguku. Sangat kentara kalau dia tidak sabar lagi menunggu hasil yang kubawa. Dia tampak tersenyum optimis. Dia tampak sangat yakin misi kami kali ini akan berhasil. Aku bergegas menghampirinya.
“nanti saja ceritanya, kita minum es kumbu dulu.” Hutami dengan semangat mengajakku pergi ke tempat penjual es kumbu yang terkenal itu.
Aku mengikuti saja ketika Hutami mengayuh sepedanya menuju kalangan. Aku bingung harus simpati atau empati terhadap sikap Hutami. Aku bingung bagaimana cara menyampaikan hasil keputusan Rutina. Tidak bisa kubayangkan bagaimana keadaannya jika mengetahui hasil pertemuanku dengan Rutina.
Aku masih belum mengatakan keputusan Rutina terhadap surat yang dikirim Hutami. Aku masih menyantap traktirannya dengan lahap. Es kumbu yang sangat nikmat. Es kumbu ini selalu jadi destinasi orang yang pergi ke kalangan. Aku masih takut menyampaikan warta tentang surat cinta Hutami. Tak bisa kubayangkan reaksinya, jika ia tahu bahwa kedua teman kami juga pernah “menembak” Rutina.
*****
BIONARASI PENULIS
Syabaharza adalah nama pena dari Syamsul Bahri Arza. Ia adalah Kepala MTs Al-Hidayah. Putra asli Pelabuhan Dalam Pemulutan ini sekarang berdiam di Desa Keposang Kecamatan Toboali Bangka Selatan, Kepulauan Bangka Belitung. Ia bisa dihubungi di [email protected]
