Bangka Belitung Capai Target Inflasi Nasional di Akhir Tahun 2025
Untuk itu, Bank Indonesia bersinergi dengan TPID se-Bangka Belitung akan terus memperkuat kerangka kebijakan 4K dalam pengendalian inflasi yakni Keterjangkauan Harga, Ketersediaan Pasokan, Kelancaran Distribusi dan Komunikasi Efektif.
Dalam rangka mendukung keterjangkauan harga bahan pokok, sepanjang tahun 2025 setidaknya telah dilaksanakan 41 kali sidak pasar dan distributor di seluruh wilayah di Bangka Belitung baik yang dipimpin langsung oleh Kepala Daerah maupun oleh perwakilan instansi terkait.
Selain itu, juga dilaksanakan kegiatan Operasi Pasar Murah (OPM) sebanyak 99 kali dan Gerakan Pangan Murah (GPM) sebanyak 65 kali di seluruh wilayah di Bangka Belitung.
Selanjutnya, pada kerangka ketersediaan pasokan, TPID terus mendorong implementasi KAD baik melalui mekanisme Government to Government (G to G) maupun Business to Business (B to B) untuk memastikan ketersediaan pasokan khususnya yang berasal dari daerah sentra produksi pangan.
Sejalan dengan hal tersebut, sepanjang tahun 2025 telah dilaksanakan 13 kali KAD baik intra provinsi maupun antar provinsi.
Dari sisi kelancaran distribusi, dalam upaya mendukung efektivitas pelaksanaan OPM dan GPM, Bank Indonesia turut bersinergi dalam fasilitasi distribusi pangan.
“Sepanjang tahun 2025, Bank Indonesia telah memberikan fasilitasi distribusi pangan pada 34 penyelenggaraan OPM yang diorkestrasi oleh Dinas Perdagangan Provinsi Kepulauan Bangka Belitung,” terang Rommy.
Selain itu, Bank Indonesia juga memfasilitasi pengiriman daging sapi beku sebanyak 17,5 ton dari Jakarta ke Belitung Timur sebagai tindak lanjut dari PKS antara Koperasi Pengendali Inflasi Daerah dan Perum Bulog Kantor Cabang Belitung.
Dalam rangka implementasi komunikasi yang efektif, sepanjang tahun 2025, telah dilakukan berbagai upaya sebagai berikut, high level meeting (HLM) TPID sebanyak 15 kali baik yang dipimpin oleh Kepala Daerah maupun oleh Sekretaris Daerah baik level Provinsi maupun Kabupaten/Kota se-Bangka Belitung, capacity building kepada anggota TPID, kelompok tani dan nelayan di Bangka Belitung.
Selain itu Focus Group Discussion (FGD) dan business matching antara produsen dan offtaker serta perluasan akses pembiayaan, capacity building sekaligus studi banding bagi TPID Provinsi Kepulauan Bangka Belitung ke TPID Provinsi Kepulauan Riau dalam rangka penguatan kompetensi dan sharing informasi program pengendalian inflasi.
Ada juga kegiatan edukasi stabilisasi harga yang menyasar Ibu-Ibu PKK, Dharma Wanita, Persit Kartika Chandra Kirana, PIA Ardhya Garini, Jalasenastri dan Bhayangkari, lomba kreasi masak dengan bahan baku ikan air tawar sebagai upaya diversifikasi pangan pada gelaran acara Explore Babel 2025 dan pengendalian ekspektasi masyarakat melalui komunikasi di media cetak, radio dan baliho milik Pemerintah Daerah.
Rommy menyampaikan kedepan masih terdapat tantangan bagi TPID dalam menjaga inflasi Provinsi Kepulauan Bangka Belitung pada rentang yang rendah dan stabil. Melalui kolaborasi yang kuat antar anggota TPID bersama seluruh masyarakat diharapkan inflasi tetap terjaga dalam sasaran nasional dalam rangka mendukung pertumbuhan ekonomi Bangka Belitung yang inklusif dan berkelanjutan.*
