Rajab: Momentum Tazkiyatun Nafs dan Jembatan Menuju Kesucian

​Oleh: ​Dr. (H.C.) H. Muhammad Gofi Kurniawan, Lc., S.Q.I., C.MA — Pimpinan Ma’had Daarul Iman Desa Kimak, Kabupaten Bangka

​Dalam tradisi intelektual Islam, bulan Rajab tidak pernah dipandang sebagai bulan biasa. Ia hadir sebagai pembuka tirai menuju kemuliaan yang lebih besar. Bagi masyarakat kita di nusantara, termasuk di tanah Bangka, kehadiran Rajab sering kali menjadi pengingat kolektif bahwa bulan suci Ramadhan sudah berada di depan mata. Namun, lebih dari sekadar penanda waktu, Rajab adalah ruang kontemplasi untuk melakukan tazkiyatun nafs atau penyucian jiwa.

​Keutamaan Rajab berakar kuat pada statusnya sebagai salah satu Asyhurul Hurum. Dalam sebuah hadis yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari dan Muslim, Rasulullah SAW bersabda:

Baca Juga  Ponpes Daarul Iman Bangka Teken MoU Kerja Sama Pendidikan dengan Alarayik Internasional University Irak

​”Setahun berputar sebagaimana keadaannya sejak Allah menciptakan langit dan bumi. Satu tahun itu ada dua belas bulan, di antaranya ada empat bulan haram (mulia). Tiga berurutan yaitu Dzulqa’dah, Dzulhijjah, dan Muharram, serta Rajab Mudhar yang terletak di antara Jumada (Al-Akhir) dan Sya’ban.”

​Penyebutan khusus ini menegaskan bahwa Rajab memiliki kedudukan istimewa di sisi Allah SWT. Di bulan ini, peperangan dilarang dan kedamaian dijunjung tinggi. Secara maknawi, ini adalah instruksi bagi kita untuk menghentikan “peperangan” dalam diri kita menghentikan pertikaian lidah, sifat hasad, dan kebencian yang sering kali mengotori hati.

Membersihkan Wadah: Jika Ramadhan adalah air yang suci dan menyucikan, maka hati kita adalah wadahnya. Mustahil air yang jernih akan tetap bersih jika masuk ke dalam wadah yang kotor. Oleh karena itu, para ulama menganjurkan beberapa amalan kunci:

Baca Juga  Perbedaan antara Inzal, Tanzil dan Nuzul Al-Quran