Laut Kami Bukan untuk Dihancurkan: Seruan Masyarakat Pesisir Menolak Eksploitasi KIP

Oleh: Mamuji — Anak Nelayan/Mahasiswa Universitas Bangka Belitung

Kehidupan masyarakat pesisir di Kabupaten Bangka Barat, khususnya di Kecamatan Jebus dan Kecamatan Simpang Teritip, sangat bergantung pada laut sebagai sumber penghidupan utama.

Laut bukan hanya ruang ekonomi tetapi juga menjadi bagian dari identitas, budaya, dan keberlangsungan hidup masyarakat nelayan. Penolakan terhadap kehadiran KIP yang beroperasi di perairan Laut Bembang, Kecamatan Jebus adalah bentuk kegelisahan kolektif masyarakat yang melihat secara langsung kerusakan yang timbul oleh aktivitas besi penghancur (KIP).

Keberadaan Kapal Isap Produksi (KIP) di perairan Laut Bembang, Kecamatan Jebus patut mendapat perhatian serius dan penolakan tegas dari masyarakat khususnya para masyarakat nelayan.

Baca Juga  Keabsahan Menggelikan: Kalaulah Benar Ada Sertifikat Hak Milik Laut

Aktivitas KIP di bembang kecamatan jebus  tidak hanya berdampak secara langsung terhadap lingkungan laut di Jebus, tetapi juga menyebar ke wilayah-wilayah tangkap nelayan di Kecamatan Simpang Teritip, seperti Laut Desa Air Nyatoh, Laut Metibak Desa Peradong, Laut Tungau Desa Simpangong, dan Laut Rambat Desa Rambat.

Sebagai besi penghancur KIP bekerja dengan cara mengisap dasar laut untuk mengambil mineral timah ini membawa dampak yang sangat besar terhadap ekosistem perairan. Endapan lumpur yang dihasilkan, kerusakan terumbu karang, hilangnya biota laut, hingga pencemaran air menyebabkan rusaknya  kawasan tangkap nelayan.

Sebagian besar mata pencaharian masyrakat sekitar adalah nelayan, kami semua sebagai masyaraka yang menggantungkan hidup dari hasil tangkapan laut yang bersih dan sehat namu sekarang sudah mulai dimasuki besi penghancur (KIP). Ketika wilayah tangkap nelayan tercemar, hancur ataupun rusak akibat aktivitas KIP, nelayan bukan hanya kehilangan mata pencahariannya, tapi juga jaminan kehidupan yang diwariskan turun-temurun.

Baca Juga  Social Marketing dalam Organisasi Pemerintah

Dalam kondisi ini, dampak tidak hanya bersifat ekologis, tapi juga sosial dan ekonomi. Nelayan yang menggantungkan hidupnya dari hasil tangkapan laut kini menjadi korban paling nyata dari operasi KIP.