Selain itu, penelitian di wilayah hutan rawa di Kecamatan Gambut, Kabupaten Banjar, juga menunjukkan bahwa tumbuhan pakan Bekantan mengalami tekanan: penelitian menemukan bahwa daun adalah bagian tumbuhan dominan yang dikonsumsi, dan keluarga Myrtaceae menyumbang ~22 % dari pakan yang dipilih Bekantan. Jika vegetasi pakan berubah atau kehilangan ragamnya, maka Bekantan mengalami stres ekologis yang dapat menurunkan keberhasilan reproduksi dan kelangsungan hidup.

Aktivitas manusia dan tekanan antropogenik

Aktivitas manusia memperkuat ancaman terhadap Bekantan melalui berbagai alur: alih fungsi lahan, pembangunan infrastruktur, meningkatnya lalu-lintas sungai/kapal, pariwisata yang tidak terkelola, dan konflik manusia–satwa. Sebagai contoh, penelitian di Kabupaten Tabalong, Kalimantan Selatan menunjukkan bahwa Bekantan ditemukan di hutan karet yang terfragmentasi dan area yang dikelilingi perkebunan, menjelaskan bahwa adaptasi terjadi tetapi bukan tanpa konsekuensi. Dalam kawasan mangrove dan Bekantan di Kota Tarakan (Kawasan Konservasi Hutan Mangrove dan Bekantan – KKMB) juga diidentifikasi bahwa hambatan pengelolaan antara lain adalah aktivitas manusia, limbah, dan tingginya akses manusia/kapal ke zona habitat.

Konversi ke tambak udang, pembangunan jalan dan kanal, dan perluasan permukiman di tepi sungai memfasilitasi dehidrasi lahan gambut dan perubahan aliran sungai yang mempengaruhi habitat Bekantan – hal ini tercatat di kajian habitat Bekantan di Delta Berau yang menunjukkan bahwa sebagian besar habitat berada di luar kawasan konservasi dan kurang mendapat perhatian.
Selain kehilangan habitat, fragmentasi menciptakan populasi yang terisolasi.

Baca Juga  Miskin Jangan Melahirkan Anak? Membedah Logika Kapitalistik dan Lingkaran Setan Kemiskinan

Sebuah penelitian tentang pemilihan tempat tidur Bekantan di Sabah menunjukkan bahwa perubahan lebar sungai mempengaruhi penggunaan tempat tidur untuk menghindar predator — ini membuktikan bagaimana perubahan fisik habitat (yang sering disebabkan manusia) memiliki dampak langsung terhadap perilaku Bekantan. Dampak langsung dari aktivitas manusia termasuk: gangguan saat istirahat, perubahan pola makan, pengurangan kelompok atau pemisahan kelompok jantan-betina, hingga kematian akibat interaksi manusia atau kendaraan. Dalam jangka panjang, tekanan-tekanan ini dapat menurunkan viabilitas populasi.

Pendekatan konservasi berbasis komunitas menghadapi ancaman tersebut, pendekatan konservasi berbasis komunitas (community-based conservation) menjadi sangat relevan. Konservasi tidak hanya bergantung pada kawasan lindung formal, tetapi perlu melibatkan aktor lokal sebagai mitra aktif. Beberapa strategi yang dapat dilakukan:
– Pemberdayaan masyarakat lokal
Penelitian di area buffer zona di Pulau Curiak (Barito Kuala, Kalsel) menunjukkan bahwa pengetahuan, persepsi, dan partisipasi masyarakat terhadap habitat Bekantan sangat berpengaruh terhadap keberhasilan konservasi. Program-program yang melibatkan komunitas lokal untuk patroli habitat, pemantauan Bekantan, dan edukasi lingkungan dapat meningkatkan kepemilikan sosial atas usaha konservasi.
– Pengembangan Ekonomi Alternatif
Mengembangkan ekonomi alternatif yang ramah lingkungan untuk mengurangi ketergantungan masyarakat pada eksploitasi sumber daya alam.
– Pendidikan dan kesadaran lingkungan
Memperbaiki persepsi lokal bahwa Bekantan bukan hama tetapi bagian dari ekosistem dan aset wisata / kearifan lokal penting. Di Barito Kuala ditemukan bahwa sikap negatif terhadap Bekantan muncul karena kurangnya pengetahuan.
– Penguatan Payung Hukum
Meningkatkan perlindungan hukum bagi Bekantan dan habitatnya
– Kolaborasi multisektor

Baca Juga  Menyelamatkan Ruang Hijau Bangka Belitung yang Kian Menyusut

Pemerintah, LSM, perguruan tinggi, sektor swasta (misalnya perusahaan yang beroperasi di sekitar habitat Bekantan) dan masyarakat lokal harus bekerja bersama. Kebijakan yang jelas dan dukungan institusional diperlukan—seperti regulasi bahwa Bekantan dilindungi berdasarkan Peraturan Menteri LHK No. P.106 Tahun 2018.
implementasi di lapangan:
(1) Program Konservasi Bekantan di Kalimantan: Program ini melibatkan masyarakat lokal dalam pengelolaan hutan rawa dan perlindungan Bekantan. (2) Ekowisata Bekantan: Ekowisata yang ramah lingkungan dan melibatkan masyarakat lokal dalam pengelolaan dan pengawasan. (3) Penanaman Pohon: Penanaman pohon yang menjadi sumber pakan Bekantan dan memperbaiki habitat mereka. Dengan demikian, konservasi Bekantan yang efektif bukan hanya soal kawasan lindung formal, tetapi juga soal bagaimana masyarakat lokal menjadi bagian dari solusi — memperoleh manfaat, merasa memiliki, dan bertindak sebagai penjaga habitat.

Baca Juga  Prinsip Velox et Exactus: Dalam Sistem Teknologi Informasi dan Pengelolaan Data Terpadu Berbagai Bidang

Populasi Bekantan (Nasalis larvatus) di Kalimantan menghadapi ancaman serius dari degradasi hutan rawa/mangrove/riparian dan aktivitas manusia yang mengubah fungsi lahan, mempercepat fragmentasi habitat, dan mengganggu ekologi spesies. Habitat yang spesifik dan terbatas membuat Bekantan sangat rentan terhadap perubahan lanskap. Aktivitas manusia seperti alih fungsi lahan, pembangunan infrastruktur, pariwisata yang tidak terkelola, dan konflik manusia–satwa memperparah situasi.

Pendekatan konservasi berbasis komunitas menawarkan jalan ke depan yang menjanjikan: dengan melibatkan masyarakat lokal, memberikan manfaat langsung, mengatur akses manusia, meningkatkan pendidikan lingkungan, dan membangun kolaborasi multisektor, konservasi Bekantan dapat menjadi usaha sosial-ekologis yang berkelanjutan. Untuk berhasil, pendekatan ini harus didukung oleh data ilmiah, kebijakan yang teguh, dan pengorganisasian masyarakat yang baik. Jika dikombinasikan dengan perlindungan habitat yang kuat, restorasi vegetasi pakan, peningkatan konektivitas habitat, dan pengurangan gangguan manusia, maka peluang untuk mempertahankan atau memulihkan populasi Bekantan di Kalimantan menjadi lebih besar.