Oleh: Indra Pirmana

Bayanganmu selalu tampak,

walaupun aku tahu kita beda status

kadang bisikan semu menghampiri, setiap mendengar kabar lewat angin.

Aku coba hidup dengan segala kesibukan.

Aku rangkul semuanya demi menutup waktu.

Nyatanya bayanganmu selalu menghantui,

seakan-akan hadir tak menentu.

Padahal aku tahu, kau telah khianat padaku.

Namun, rasa khianat itu selalu menjelma dan terasa nikmat sebagai alur hidupku.

Jujur aku tidak berdaya!

Aku tak kuasa kalau harus menghapus jejakmu.

Wajah bisa menunjukan lupa, tetapi hati tidak bisa berbohong.

Baca Juga  Lidah di Panggung, Hati di Ruang Gelap