Demi Mama Aku Bisa
Karya: Hikmah Tul Aulia
Peluh membasahi dahi, aku menepi karena letih tak berarti. Terik sinar matahari siang ini rasanya lebih menyengat dari hari sebelumnya. Kupandangi daganganku yang masih tersisa setengah. Kapan ya habisnya?
Sabtu dan Minggu sekolah ku libur. Itu waktunya aku berdagang keliling menenteng sekotak risol buatan mama. Lalu lalang orang tak luput kutawarkan.
Syukur-syukur bila terjual, walau tak jarang aku diabaikan. Tatapan kasihan sering pula aku dapatkan dari orang-orang saat berpapasan.
Kupandangi uang di dalam kresek hitam, semoga cukup untuk makan dan tambahan sewa kontrakan. Selain membuat risol, mama juga bekerja sebagai buruh cuci baju.
Sementara bapak sudah sejak dua tahun lalu berpulang akibat kecelakaan kerja. Meninggalkan aku dan mama beserta utang-utangnya. Rasanya aku ingin segera dewasa, agar bisa bekerja dan mendapatkan uang untuk mama.
Awal bulan Juli tiba. Itu hari pertama aku duduk di bangku kelas tiga SD. Sejak pagi aku bersiap agar berangkat sekolah lebih awal demi memperebutkan bangku paling depan.
Seperti tahun-tahun sebelumnya saat kenaikan kelas para murid dipersilakan memperkenalkan diri beserta hobi, motivasi bahkan mimpi. Kini giliran aku yang maju ke depan, memperkenalkan diri dengan berani.
“Baik Abdee. Untuk hobi dan cita cita kalau sudah besar Abdee mau jadi apa?” tanya Bu guru. Tepat setelah aku memperkenalkan diri.
“Eum, hobi itu apa Bu guru?” tanyaku saat itu.
“Hobi itu semacam kesukaan Abdee atau kegemaran yang sering kali Abdee lakukan dan membuat Abdee merasa senang,” jawab ibu guru menjelaskan.
“Oh, kalau gitu hobi Abdee jualan risol, dan Abdee cita-citanya mau jadi abdi negara bu,” terangku. Seketika tawa teman teman kelasku pecah, padahal aku tak tahu apa yang lucu.
“Hahaha, ada ada saja kamu. Mana ada hobi jualan risol,” timpal teman sebangku.
“Anak-anak, sudah cukup. Kenapa kalian tertawa, tidak ada yang lucu. Lagi pula hobi Abdee bagus sekali, berarti hobinya berdagang dan itu menghasilkan uang. Baik selanjutnya..”
Belum sempat Ibu guru menyelesaikan ucapannya, seorang anak perempuan kembali bersuara.
“Lagian bukan cuman itu bu. Masa Abdee mau jadi abdi negara padahal kata mama, bapaknya Abdee kan tukang judi haha. Mimpi sana.”
Seketika kelas kembali ricuh. Dan berakhir sunyi setelah mendapat gertakan dari Bu guru. Kemudian Bu guru menyuruh mereka untuk meminta maaf padaku. Walau yang dikatakan anak perempuan itu tak sepenuhnya salah. Bapak memang seorang penjudi.
Matahari perlahan lengser dari singgasananya. Syukurnya, daganganku juga sudah habis tak tersisa. Dalam perjalanan pulang, pemandangan sekumpulan tentara mencuri perhatianku.
Dengan langkah serempak, badan gagah nan tegap, berlari sembari bersorak menyanyikan lagu pengobar semangat. Terkesima sambil berandai-andai suatu hari nanti apa aku bisa di posisi yang sama. Asik memerhatikan, sampai tak sadar seorang dari mereka menghampiri.
