Demi Mama Aku Bisa
“Adek dari mana?” ucap seorang tentara kepadaku.
“Ah, ini baru selesai dagang risol om. Hehe, ” balas ku.
“Wah pinter ya. Adek namanya siapa?” tanya om tentara kepadaku.
“Abdee,” jawabku lugas. Ku pandangi om tentara dengan papan nama bertuliskan Arzenal di dada kanannya merogoh saku celana.
“Nih, untuk Abdee,” ucapnya sembari menyodorkan setangkai permen kaki dan sebuah gantungan bertuliskan I Love Bangka.
“Terima kasih om,” ucapku dengan semyum merekah. Dibalas anggukan oleh om tentara.
“Om, kalau sudah besar aku mau jadi kaya om.”
“Wah, Abdee mau jadi tentara juga? Harus rajin belajar ya jaga kesehatan juga oke.”
“Tapi om teman teman ku malah tertawa saat aku bilang ingin jadi abdi negara, katanya mimpi aja sana, ” ucapku kepada om tentara, teringat kejadian minggu lalu.
“Abdee ingat kalimat ini ya, keberhasilan adalah milik seorang pemimpi. Jika bermimpi saja tak berani bagaimana mau berhasil?” kata om tentara, sembari menepuk pelan kepalaku kemudian berlalu.
Sejak hari itu, aku yang masih mengenakan seragam merah putih, sering menyempatkan diri singgah sebentar sekadar melihat mereka latihan. Tak jarang mereka membeli risol buatan mama yang masih tersisa. Sejak itu pula aku tak takut lagi bermimpi, tak takut lagi berimajinasi, tak takut lagi berangan dan berencana untuk ke depan.
Tahun pertama di sekolah menengah atas aku tertarik dengan eskul paskibra yang dipromosikan kakak kelas. Syukurnya tinggi badanku masuk dalam kategori. Latihan rutin di sabtu pagi. Sedikit letih tapi tak berarti. Kini hari kemerdekaan sudah di depan mata.
Bermodal tekat yang kuat beserta doa mama, seleksi ku ikuti demi lolos paskibraka provinsi. Hari pengumuman tiba. Dengan jantung berdegup kencang, disertai perasaan cemas cemas harap ku buka data yang tertera. Euforia seketika berubah. Kegembiraan yang tak bisa diungkapkan ketika melihat tepat pada baris ke tujuh belas, nama Nayaka Abdee terpampang jelas.
Semua telah berlalu. Kini seiring dengan derap langkah. Dengan seragam loreng kebanggaan. Aku berjalan menuju rumah dengan senyuman merekah. Di sana tepat di depan pintu rumah, sambutan dari mama dengan senyum indah menyerta.
“Abdee udah pulang nak?” adalah kalimat pertama yang di ucapkannya. Dengan kedua mata sayu beserta keriput di wajahnya yang semakin kentara. Kuciumi tangan mama. Dirapikannya papan nama di dadah sebelah kananku yang sedikit miring. Sembari berucap, “Mama bangga.”
Abdee anak seorang penjudi yang berhasil meraih mimpi. Abdee yang hobi menjual risol, ditertawakan karena punya cita-cita jadi abdi negara. Namun siapa sangka, karena katanya keberhasilan adalah milik seorang pemimpi, Abdee jadi berani.
Dari Abdee, yang berhasil jadi abdi negara.
Tamat
Hikmah Tul Aulia, Siswi SMAN 1 Toboali, Bangka Selatan
