Oleh: Syabaharza

“Ting”

Suara notifikasi dari sebuah gaway jelas terdengar. Namun, Aku tidak bergerak sedikitpun. Aku masih fokus dengan pekerjaanku. Menatap layar laptop yang sedari pagi tadi menyala. Entah sudah beberapa kali aku menyolokkan charger laptop. Laptop tua yang selalu menemani pekerjaanku. Sebuah laptop dengan layar yang sudah bergaris. Namun laptop itu tetap setia menemaniku menyelesaikan pekerjaan.

Sudah sering aku mendengar suara notifikasi seperti itu, tetapi selalu kuabaikan, seperti suara-suara para pendemo yang hilang dibawa angin. Suara notifikasi itu terkadang membuat semangatku melempem seperti kerupuk terkena air.

Entah mengapa, ketika suara notifikasi itu keluar dua sosok seakan hadir di hadapanku. Dua sosok yang kontradiktif. Satu berjiwa motivator dan satunya berjiwa pelemah.

“Coba lihat dulu, siapa tahu itu pemberitahuan yang membahagiakan.”

Begitulah sosok motivator itu mencoba terus memberikan rasa optimis kepadaku.

“Untuk apa dilihat, sudah pasti itu kabar mengecewakan lagi.”

Sahutan yang dilontarkan oleh sosok pelemah selalu mengiringi.

Di saat itulah kemasygulan selalu menjelma di hatiku. Aku terkadang putus asa. Aku terkadang tidak ingin membuat karya lagi, karena setiap karyaku selalu dimentahkan dengan berbagai alasan. Sudah tidak terhitung berapa karya yang sudah kukirim ke penerbit, surat kabar online, surat kabar cetak, namun belum satu pun yang disetujui untuk diterbitkan.

Baca Juga  Kemilau Pesona di Jejak Kisah Kita

Berbagai alasan dari penerbit dan surat kabar untuk menolak karyaku. Mulai dari sudah pernah ditulis penulis lain sampai kepada tidak ada tempat untuk diterbitkan.*****

Pertama kali aku memberanikan membuat tulisan untuk dikirim ke penerbit maupun surat kabar didasari saat aku membaca sebuah karya yang luar biasa bagus. Tulisan itu seperti mengalir, bahasa sastranya sungguh indah, membuat yang membaca menjadi baper dan terbawa suasana. Ceritanya sederhana namun sang penulis mampu mengemasnya dengan apik. Semenjak itu aku memberanikan membuat sebuah karya dan memberanikan diri untuk mengirimnya ke penerbit atau surat kabar.

Dengan bekal mempelajari tulisan yang pernah kubaca, aku optimis karyaku akan dimuat dan dengan bangga aku melihat fotoku terpampang di media cetak. Di saat itu hanya sosok motivator yang selalu mendampingiku.****

Ketika suatu hari ada bunyi notifikasi di gaway, aku bergegas melihatnya dan membukanya. Hatiku berbunga-bunga tatkala membaca email yang masuk berasal dari surat kabar tempat ku mengirim tulisan. Sekian detik kemudian bunga-bunga di hatiku tiba-tiba layu. Isi email dari surat kabar itu seperti racun rumput yang disemprotkan ke bunga-bunga di hatiku tadi.

Baca Juga  Sumpah Ampak

“Terima kasih atas artikel yang sudah Anda kirimkan. Setelah kami pelajari artikel Anda belum termasuk kriteria untuk dimuat dikarenakan sudah banyak yang menulis hal ini sebelumnya. Kami berharap masih bisa menerima tulisan Anda berikutnya.”

Begitulah isi email yang meruntuhkan motivasiku. Di akhir email itu juga disampaikan berbagai syarat tulisan yang diterima dan lolos seleksi.

Sosok motivator itu tetap setia di sampingku. Ia tetap memberikan semangat kepadaku.

“Jangan menyerah, ini baru satu kali penolakan.”

Begitulah katanya sambil tersenyum kepadaku.

Jujur saat itu aku masih optimis bahwa tulisanku berikutnya akan dimuat. Bukankah ada sebuah kata bijak kegagalan adalah sukses yang tertunda. Dan bukankah seorang yang berhasil tidak hanya melakukan percobaan sekali tetapi berkali-kali bahkan berjuta kali.

Pasca email dari surat kabar itu, aku lebih giat lagi membuat tulisan. Bahkan dalam sehari aku sanggup menyelesaikan tiga judul tulisan. Kupelajari syarat-syarat yang dikirim oleh email surat kabar itu, kemudian kubaca juga tulisan-tulisan yang sudah dimuat surat kabar itu. Aku berpikir pasti tulisanku akan diterima dan dimuat. Sosok motivator itu pun kembali hadir dan tersenyum menyaksikan semangatku yang pantang menyerah.****

Baca Juga  Rimbak, Lebak, Rebak, Kubak, Bebak, Kelekak (Bagian 5)

Sudah dua bulan lebih berlalu. Tidak ada satu pun tulisanku yang dimuat di surat kabar. Opini, cerpen, surat pembaca, hotline bahkan berita dari pembaca semua hilang bersamaan dengan lenyapnya rasa optimisku.

Setiap notifikasi yang keluar selalu membangkitkan rasa optimisku. Namun isi email yang selalu sama membuat aku terhempas dalam angan-anganku sendiri. Selama dua bulan lebih puluhan bunyi notifikasi gaway menemaniku. Dan selama masa itu pula aku semakin terpuruk dalam lembah pesimis.

Saat itulah sosok pelemah hadir dan selalu membisikkan kata-kata yang membuat rasa ingin menulisku pergi dan sembunyi di tempat yang tidak diketahui orang. Namun sosok pelemah itu selalu saja dapat menemukan tempat persembunyianku. Ia selalu tersenyum mengejek.

“tulisanmu itu memang jelek, tidak pantas untuk diterbitkan”