Begitulah kata-kata penghinaan yang keluar dari mulut sosok pelemah.

Sosok pelemah sangat berkuasa saat itu. Bahkan sosok motivator yang dulu selalu menemaniku tak kuasa lagi membelaku. Sosok motivator seakan kehilangan kekuasaannya. Ia bagaikan raja yang tidak mempunyai wilayah lagi. Sedangkan sosok pelemah bagaikan negara adidaya yang dengan mudah mencaplok wilayah kekuasaan sosok motivator.

Dua bulan terakhir diriku sangat dikuasai oleh sosok pelemah. Aku seperti layang-layang kehilangan kuncung bergerak tanpa aturan. Buku-buku dan tulisan penulis terkenal yang selalu kujadikan referensi kubiarkan begitu saja, terlantar di lantai bagaikan anak-anak jalanan yang tidak tentu nasibnya.

“Untuk apa aku menulis, toh nanti ditolak lagi.”

Kata-kata itu selalu hadir di benakku. Dan tanpa kusadari kata-kata itu mendukung usaha sosok pelemah dalam misinya.

****

“Ting”

Suara notifikasi dari gawayku kembali berbunyi. Entah yang keberapakali bunyi seperti itu kudengar. Aku tetap tidak menggubrisnya. Aku sudah tidak perduli lagi. Aku sudah tahu, pasti isi email itu adalah penolakan. Alasannya pastis ama.

Baca Juga  Menyapa Rupa

“Karena sudah ada yang pernah menulis dengan judul yang sama atau tulisan Anda tidak mendapat tempat”

Begitulah alasan-alasan yang selalu disampaikan oleh surat kabar terhadap karya-karyaku yang pernah dikirim.

Pandanganku beralih ke layar laptop usang. Di situ ada sebuah tulisan yang sedang kubuat. Sebuah cerpen yang tinggal finishing. Aku masih ragu untuk menyelesaikannya. Aku khawatir tidak akan dimuat lagi.

Dua sosok yang selalu hadir ketika aku ragu tiba-tiba muncul di layar laptopku. Anehnya kali ini mereka tidak berkata apa-apa. Mereka hanya diam dan menatap tajam ke arahku. Rasa takutku tiba-tiba menjelma. Akhirnya kutinggalkan saja laptopku dengan layar masih menyala. Aku duduk di kursi tamu dengan masih memendam rasa takut. Tiba-tiba dua sosok itu terlihat di kursi yang lain. Mereka masih diam dan mematung. Aku menutup mataku dengan kedua tanga. Aku tidak ingin melihat dua sosok itu.

Baca Juga  Kiasan Layang-Layang

“Selamat ya kak!”

Tiba-tiba suara adikku mengagetkanku.

Aku masih belum berani membuka kedua tanganku. Aku takut kedua sosok itu masih mengikutiku. Sampai akhirnya tangan adikku melepaskan tanganku dari muka.

“Lihat ini, tulisan kakak dimuat di koran.”

Aku masih tidak percaya dengan kalimat adikku itu. Apakah adikku bercanda dan hanya ingin menghiburku. Aku masih tidak yakin tulisanku dimuat di surat kabar.

Kuraih surat kabar yang ada di tangan adikku. Kubuka pada kolom opini. Betapa exited-nya aku ketika melihat fotoku terpampang. Di bawahnya judul sebuah tulisan tercetak dengan rapi. Dan setelah kupastikan memang benar itu tulisanku, badanku langsung jatuh ke lantai dan bersujud.

Baca Juga  Arah Samudera

Aku bergegas mencari gawayku. Dengan tergesa-gesa kubuka email.

“Selamat artikel Anda termasuk yang dimuat”

Ternyata notifikasi yang kuabaikan tadi adalah pemberitahuan bahwa tulisanku lolos seleksi.

Kuperhatikan di sekelilingku. Kucari dua sosok yang selalu hadir. Tidak ada. Entah kemana mereka pergi.

“Sang Motivator Vs Sang Pelemah” itulah judul tulisanku yang dimuat di surat kabar tadi.

BIONARASI PENULIS

Syabaharza adalah nama pena dari Syamsul Bahri Arza. Ia adalah Kepala MTs Al-Hidayah. Putra asli Pelabuhan Dalam Pemulutan ini sekarang berdiam di Desa Keposang Kecamatan Toboali Bangka Selatan, Kepulauan Bangka Belitung. Ia bisa dihubungi di [email protected]