Namun, efektivitas konservasi masih terbatas oleh fragmentasi tata ruang antar sektor, lemahnya penegakan hukum terhadap perburuan dan perdagangan ilegal, serta minimnya pendanaan yang berkelanjutan. Ketergantungan pada donor internasional membuat banyak program bersifat jangka pendek dan berhenti setelah proyek berakhir. Konflik manusia–satwa juga masih sering diselesaikan secara reaktif melalui relokasi harimau tanpa analisis ekologi mendalam.

Kebijakan konservasi nasional juga masih berorientasi pada kawasan, bukan lanskap ekologis yang luas. Padahal, harimau membutuhkan ruang jelajah hingga 250 km² untuk satu individu jantan dewasa. Dengan fragmentasi habitat yang tinggi, kebijakan berbasis kawasan konservasi menjadi tidak memadai (Linkie et al., 2020).

Selain itu, integrasi konservasi dengan pembangunan ekonomi masih lemah karena izin usaha perkebunan dan tambang sering diterbitkan di wilayah bernilai konservasi tinggi (Sukmantoro et al., 2023). Keterlibatan masyarakat lokal juga sering bersifat simbolik, bukan partisipatif. Oleh karena itu, konservasi perlu diarahkan menjadi pembangunan inklusif berbasis ekosistem.

Baca Juga  Pengembangan Pelabuhan Tanjung Gudang Belinyu terhadap Konektivitas Kawasan

Ke depan, strategi konservasi Harimau Sumatera harus beralih dari pendekatan spesies-sentris menuju pendekatan ekoregional dan kolaboratif, meliputi integrasi tata ruang, insentif ekonomi hijau, inovasi berbasis teknologi, penegakan hukum terpadu, serta kolaborasi multipihak yang melibatkan masyarakat, LSM, dan sektor swasta.

Upaya konservasi Harimau Sumatera telah menunjukkan kemajuan melalui perlindungan habitat, patroli anti-perburuan, dan mitigasi konflik. Namun, keberhasilan tersebut masih terhambat oleh fragmentasi habitat, lemahnya koordinasi kebijakan lintas sektor, serta rendahnya partisipasi masyarakat dalam pengelolaan sumber daya alam.

Untuk menjamin keberlanjutan populasi harimau, diperlukan reformasi kebijakan konservasi nasional menuju pendekatan lanskap terpadu yang menyeimbangkan aspek ekologi, sosial, dan ekonomi. Harimau Sumatera tidak hanya simbol biodiversitas Indonesia, tetapi juga indikator keberhasilan bangsa dalam menjaga harmoni antara pembangunan dan kelestarian alam.

Baca Juga  Bumi Laskar Pelangi Hari Ini: Antara Identitas, Tantangan dan Harapan