Aku melihat mata mereka berkaca-kaca, dan hari itu aku sadar perjuanganku bukan hanya tentang diriku. Ini tentang kepercayaan yang akhirnya tumbuh, tentang doa yang tidak pernah benar-benar berhenti meski sempat diselimuti rasa takut. Namun, menjadi mahasiswa bukan akhir dari cerita, itulah awal dari perjuangan yang lebih nyata.

Aku menjadi anak kos, hidup jauh dari orang tua, mengatur uang beasiswa dengan sangat hati-hati, belajar membedakan antara kebutuhan dan keinginan, menguatkan ketika lelah datang tanpa permisi dan masih banyak lagi lainnya.

Jalan hidupku tidak selalu mudah dijalani, banyak lika-liku, duri tajam yang menusuk. Pernah suatu malam aku menatap almamater kampusku yang tergantung di dinding kos, lalu berkata pelan pada diri sendiri. “Putri, kamu sudah melangkah sejauh ini, jangan menyerah dan kamu harus semangat selalu sampai mencapai titik puncak gunung tingginya”.

Almamater yang kutatap itu bukan sekadar kain, itu simbol perjuangan. Simbol dari nekat yang tidak sia-sia, simbol dari doa orang tua yang tidak pernah berhenti. Di kampus Unmuh Babel, aku melihat banyak sekali dosen-dosen serta Bapak Rektor yang menginspirasi.

Baca Juga  Rekah Sebuah Kota: Purwokerto

Dalam sambutan dan arahannya, aku merasakan pesan yang kuat, bahwa pendidikan adalah jalan perubahan. Bahwa mahasiswa bukan hanya belajar untuk diri sendiri, tetapi untuk memberi manfaat bagi banyak orang. Kata-kata beliau seperti pengingat bahwa keberadaanku di kampus ini bukan kebetulan. Aku ada di sini karena ada amanah yang harus kujaga.

Bahwa mahasiswa bukan hanya belajar untuk diri sendiri, tetapi untuk memberi manfaat bagi banyak orang. Kata-kata beliau seperti pengingat bahwa keberadaan ku di kampus ini bukan kebetulan, aku ada di sini karena ada amanah yang harus dijaga. Dan aku pula tidak ingin menjadi mahasiswa yang tidak hanya duduk diam lalu pulang, melainkan aku ingin menjadi mahasiswa yang bertumbuh, ingin membuktikan bahwa kesempatan ini tidak sia-sia.

Baca Juga  3 Puisi Cinta yang Bikin Luluh Pasangan

Dari awal masuk aku aktif mengikuti berbagai organisasi serta kegiatan-kegiatan lainnya, membagikan waktu sepandai-pandainya dengan seimbang, serta ingin terus mengukir prestasi gemilang untuk kampus tercinta ini, kampus Unmuh Babel.

Lambat laun waktu dan hari berputar begitu cepat, satu semester telah aku lewati dengan penuh air mata, tetapi juga penuh pembelajaran. Aku belajar bahwa kuat itu bukan berarti tidak pernah lelah. Kuat adalah tetap berjalan meski lelah, aku belajar bahwa miskin tampil apa adanya bukan alasan untuk malu, tetapi justru dari keterbatasan itulah aku belajar arti syukur yang sebenarnya.

Aku tidak punya segalanya tapi aku punya tekad dan aku memang tidak punya kemewahan maupun kekayaan seperti orang -orang lainnya, tetapi aku punya kemauan dan ingin bangkit

Dan untuk semua adik-adik kelas XII-ku yang ada di Indonesia ini, di mana pun kalian berada, yang hari ini merasa tidak punya biaya untuk kuliah, merasa tidak didukung keluarga/orang tua, atau merasa mimpinya terlalu tinggi untuk keadaan keluarga, aku ingin kalian tahu sesuatu.

Baca Juga  Bumi Laskar Pelangi Hari Ini: Antara Identitas, Tantangan dan Harapan

Aku pernah berada di posisi yang kalian rasakan sekarang ini, pernah merasa kecil, pernah merasa gagal, pernah merasa tidak didukung, terhalang biaya, mimpi terlalu tinggi. Namun, ternyata yang menentukan masa depan itu bukan seberapa banyak yang kita punya, melainkan seberapa besar kita mau berjuang dan usaha.

Kalau banyak tokoh yang menggagas kemerdekaan Indonesia berani bermimpi tentang kemerdekaan Indonesia, seperti BJ Habibie yang berani bangkit dari keterbatasannya menjadi ilmuwan besar yang diakui dunia, maka kita pun bisa melawan keterbatasan kita sendiri. Jangan biarkan keterbatasan tidak punya membatasi langkahmu, karena seringkali yang benar-benar membunuh mimpi bukan kemiskinan, tetapi rasa takut untuk mencoba. Hidup ini memang tidak selalu mudah, tetapi selama kamu mau berusaha, jalan itu akan selalu ada.

Simpang Rimba, 15 Febuari 2026