Oleh: Yan Megawandi

Minggu lalu saya dan seorang teman pulang ke Bangka. Bandara penuh sesak. Ruang tunggu terasa lebih riuh dari biasanya. Libur akhir pekan yang kebetulan cukup panjang. Empat hari. Membuat orang berbondong-bondong bepergian. Tetapi jika diperhatikan lebih saksama, sebagian besar penumpang yang memenuhi kursi-kursi tunggu adalah saudara-saudara Tionghoa yang hendak merayakan Tahun Baru Imlek.

Di sudut lain, ada serombongan calon jemaah umrah. Mereka paling mudah dikenali. Seragam warna-warni yang mencolok, tas kecil seragam yang menggantung di bahu, serta wajah-wajah yang menyimpan campuran antara harap dan haru. Semua sibuk dengan urusan masing-masing. Ada yang menelepon keluarga, ada yang menjaga anak-anaknya, ada yang sekadar termenung memandangi landasan.

Saya duduk di samping sepasang suami istri muda dengan dua orang anak yang masih usia sekolah dasar. Saya bertanya, “Akan ke mana?”
“Kami ke Bangka. Semua keluarga besar kumpul saat Imlek. Kampung kami di Kuday, Sungailiat,” jawab sang bapak sambil tersenyum.

Baca Juga  Seperempat Abad Kepulauan Bangka Belitung: Antara Angka dan Arah Masa Depan

Menurutnya, mereka berusaha selalu pulang saat Tahun Baru Imlek. Pulang adalah kewajiban sekaligus kerinduan. Saya mengangguk. Rasanya kata itu sederhana, tetapi sarat makna.

Orang Tionghoa rata-rata pulang saat Imlek dan sembahyang kubur. Sebagian besar orang Melayu akan berusaha pulang kampung ketika Idulfitri atau Iduladha. Di banyak negara Barat, orang pulang saat Natal atau Thanksgiving. Hampir semua kebudayaan di dunia memiliki satu momentum sakral untuk kembali berkumpul.

Seolah-olah manusia memang diciptakan dengan kebutuhan untuk pulang.

Saya kemudian berpikir, setidaknya ada tiga level pulang dalam hidup kita.

Level pertama adalah pulang yang paling rutin dan harian. Setiap sore atau malam kita pulang dari kantor, dari sekolah, dari pasar, dari sawah, dari ruang-ruang kerja yang menguras energi. Kita kembali ke rumah. Ke tempat tidur yang kita kenal. Ke ruang tamu yang mungkin tak seberapa luas, tetapi terasa milik sendiri.

Baca Juga  Pulang (Kaeru)

Pulang pada level ini adalah kebutuhan dasar. Ia adalah jeda. Tempat kita menurunkan beban, menghela napas, dan mengisi ulang tenaga. Tanpa pulang, hidup terasa seperti perjalanan panjang tanpa titik henti.

Saya pernah merasakan bagaimana rasanya tak punya tempat pulang. Dulu, ketika masih mengontrak rumah bersama beberapa teman, kami lupa bahwa masa kontrak sudah habis. Pemilik rumah memberi waktu hanya dua hari untuk keluar karena penghuni baru segera masuk. Sementara itu, rumah kontrakan baru belum kami temukan.

Panik. Gelisah. Tidak nyaman.

Ternyata pulang bukan sekadar soal alamat. Ia adalah rasa aman. Ketika tak ada lagi tempat kembali, kita baru menyadari betapa berharganya sebuah rumah, betapa pentingnya memiliki ruang untuk pulang.

Baca Juga  Kotaku, Surat Buat yang Lupa

Level kedua adalah pulang dalam arti kembali ke pelukan keluarga. Inilah pulang yang lebih emosional. Pulang saat Imlek, Lebaran, Natal, atau momen-momen khusus lainnya. Pulang untuk bertemu ayah dan ibu. Pulang untuk mendengar kembali suara yang dulu membangunkan kita setiap pagi. Pulang untuk merasakan masakan yang rasanya tak pernah benar-benar bisa tergantikan.