Pulang
Bertemu orang tua sering menjadi alasan utama. Bertemu adik, kakak, paman, bibi, nenek, kakek, dan keluarga besar lainnya adalah bonus yang membahagiakan. Di ruang makan yang ramai, di halaman rumah yang dipenuhi canda, kita merasa kembali menjadi anak-anak.
Namun, waktu berjalan. Ketika kedua orang tua telah tiada, makna pulang perlahan berubah. Rumah keluarga mungkin masih berdiri. Dindingnya masih sama. Halamannya masih ada pohon yang dulu kita panjat. Tetapi sapaan di depan pintu sudah tak terdengar. Senyum yang menyambut sudah tak terlihat.
Saya merasakan betul kehilangan itu. Sejak orang tua meninggal dunia, hasrat untuk pulang tak lagi sekuat dulu. Ada ruang kosong yang tak bisa diisi oleh siapa pun. Pulang menjadi lebih sunyi. Kenangan tetap ada, tetapi kehangatan terasa berbeda.
Di titik itu saya menyadari, pulang bukan hanya soal tempat, melainkan tentang siapa yang menunggu kita di sana.
Dan level ketiga adalah pulang yang paling hakiki: kembali kepada Sang Pencipta. Kematian. Ia adalah lawan dari lahir. Ia adalah kepastian yang tak bisa ditawar. Tak ada yang bisa menunda jadwalnya. Tak ada yang bisa menukar tiketnya.
Inilah pulang yang tertinggi. Pulang yang sesungguhnya. Pulang yang tidak lagi diikuti dengan keberangkatan kembali ke dunia.
Setiap kita pada akhirnya akan mengalami ketiga level pulang tersebut. Kita pulang setiap hari ke rumah. Kita pulang sesekali ke kampung halaman dan keluarga. Dan suatu saat nanti, kita akan pulang dalam arti yang paling abadi.
Maka pertanyaannya bukan lagi apakah kita akan pulang, melainkan bagaimana kita mempersiapkan diri untuk pulang.
Apakah pulang harian kita diisi dengan kerja yang jujur dan bermakna?
Apakah pulang ke keluarga kita isi dengan kasih sayang yang cukup?
Apakah hidup yang kita jalani hari demi hari telah menjadi bekal yang layak untuk pulang yang terakhir?
Bandara yang penuh sesak itu seakan menjadi miniatur kehidupan. Orang-orang dengan tujuan berbeda, dengan keyakinan berbeda, dengan pakaian berbeda, tetapi semuanya sedang bergerak menuju pulang. Ada yang pulang untuk merayakan Imlek. Ada yang berangkat untuk umrah. Ada yang sekadar memanfaatkan libur panjang.
Semua bergerak. Semua menuju sesuatu yang disebut pulang.
Mungkin hidup ini pada dasarnya memang perjalanan dari satu pulang ke pulang yang lain. Kita hanya perlu memastikan bahwa setiap langkah yang kita tempuh membuat pulang kita kelak menjadi lebih tenang, lebih bermakna.
Sebab pada akhirnya, tak ada yang lebih kita rindukan selain pulang. Dan tak ada yang lebih pasti selain pulang itu sendiri. Selamat Tahun Baru Imlek dan Selamat Menikmati Keindahan Ramadhan. Salam Takzim.
