Oleh: Yanto In Action

Azan Subuh yang Menggugah

Suara azan dari masjid dekat rumah menggelegar di tengah hening malam yang mulai sirna. Muhammad Rafiq membuka mata perlahan, menghirup udara pagi yang segar dan sedikit dingin. Tangannya secara refleks meraih sajadah yang selalu tersimpan rapi di sudut kamar.

“Sudah 1 hari saya menjalankan puasa, tapi rasanya masih berat,” gumamnya sambil menyusun sajadah di lantai.

Ketika ia berdiri untuk salat Subuh, pikirannya masih terganggu oleh kesibukan kantor kemarin. Tugas yang menumpuk, desakan dari atasan, hingga perdebatan kecil dengan rekan kerja membuat hati menjadi tidak tenang. Tapi saat ia membungkuk dalam rukuk, lalu sujud menghadap Sang Pencipta, seketika rasa tenang menyelimuti dirinya.

Baca Juga  Bingung Membuat Puisi?, Mari Pahami Dulu Pengertian dan Jenis-jenis Puisi

“Lima kali saya akan bertemu-Mu setiap hari. Ini pondasi saya untuk menjaga hati selama sebulan ini,” bisik Muhammad Rafiq dalam hati setelah menyelesaikan salat. Ia kemudian menghadap kiblat untuk berdoa, memohon kekuatan untuk menjalankan puasa dengan penuh kesungguhan.

Salat Dzuhur yang Menenangkan

Hari itu terasa lebih panjang dari biasanya. Muhammad Rafiq bekerja di bagian administrasi sebuah kantor sekolah, dan pagi harinya ia harus menangani keluhan orang tua siswa yang tidak puas dengan jadwal ujian harian. Meski sudah berusaha sabar, lidahnya hampir saja mengeluarkan kata-kata yang tidak pantas.

“Jangan lupa, hati harus dijaga,” ingatnya ketika melihat jam di dinding menunjukkan pukul 11.45 Wib. Ia segera membersihkan meja kerja dan bergegas ke musala sekolah.

Baca Juga  Pentigraf: Obat untuk Drakula

Di dalam musala yang sunyi, Muhammad Rafiq melakukan wudhu dengan hati-hati, seperti membersihkan setiap sudut hati yang mulai terasa keruh. Saat salat Dzuhur dimulai, ia fokus pada setiap gerakan dan bacaan. Ketika ia berada dalam posisi sujud, pikirannya kembali pada niat awalnya: menjalankan puasa bukan hanya menahan lapar dan dahaga, tapi juga menahan kata-kata dan sikap yang tidak baik.

Setelah salat, ia merasa badan lebih ringan dan hati kembali tenang. Ia keluar musala dengan senyum, lalu menghampiri orang tua siswa yang masih menunggu untuk membahas masalah dengan cara yang lebih lembut dan penuh pemahaman.

Shalat Ashar yang Mengingatkan

Siang hari semakin menjelang sore. Muhammad Rafiq merasa dahaga mulai menyiksa, dan perutnya sedikit menggeliat. Ia sedang mengatur buku-buku bacaan di perpustakaan sekolah ketika seorang siswa kecil datang dengan wajah cemberut.

Baca Juga  Cosmos Abadi di Nagasaki

“Pak Muhammad Rafiq, buku cerita saya hilang. Saya sudah cari kemana-mana tapi tidak ada,” ujar siswa itu sambil menahan tangis.