Jangan Tinggalkan Bahasa Ibu
Kemudian contoh yang lain, profesional seperti Asri Hartanti yang berprofesi sebagai guru menunjukkan bahwa menguasai bahasa internasional (Inggris) tidak menghalangi untuk tetap membumi dan menggunakan bahasa sehari-hari. kemudian tokoh multibahasa terkenal, Eddie Izzard menggunakan pendekatan multibahasa namun tetap menempatkan bahasa ibu sebagai basis kognitif. Dan yang paling fenomenal adalah ulama besar dari Palembang, Almarhum K.H. Taufiq Hasnuri selalu menggunakan bahasa ibu ketika memberikan tausiyah. Lalu yang jadi pertanyaan, kenapa kita merasa malu memakai bahasa ibu atau bahasa daerah ketika sudah merasa sukses. Akibat rasa malu itu membuat kita meninggalkan bahasa ibu.
Penyakit menghilangkan bahasa ibu banyak menjangkiti anak-anak zaman sekarang. Dengan seringnya anak-anak zaman sekarang berinteraksi dengan teman sebaya atau melalui media sosial, maka mereka cenderung lebih tertarik mempelajari bahasa asing karena menganggap hal itu membuka peluang karier dan koneksi global.
Pandangan tersebut sebenarnya tidak salah, namun tanggung jawab mempertahankan bahasa ibu tidak boleh diabaikan. Bahasa adalah jendela untuk memandang realitas kehidupan. Hilangnya bahasa berarti hilangnya cara pandang, nilai, etika, dan norma suatu bangsa. Di sinilah peran orang tua memiliki tanggung jawab besar untuk menanamkan kecintaan pada bahasa ibu, sembari tetap memberikan kesempatan anak belajar bahasa asing. Dengan begitu, anak dapat mengenal dunia tanpa kehilangan identitas budayanya.
Sebagai penutup, penulis ingin mengajak kita semua untuk terus melestarikan bahasa ibu atau bahasa daerah kita. Bahasa ibu yang diperingati secara internasional setiap tanggal 21 Februari itu merupakan identitas kita di mana pun berada. Tentunya juga kita harus selektif ketika menggunakan bahasa ibu dalam pergaulan sehari-hari.
Kita harus bisa memilih dan memilah lawan bicara yang kita hadapi. Jika kita sedang dalam forum nasional maka wajib memakai bahasa nasional, jika kita dalam forum internasional maka pergunakanlah bahasa internasional, tapi jika kita berada dalam lingkungan keluarga atau masyarakat asal kita dilahirkan maka wajib memakai bahasa ibu atau bahasa daerah.
Intinya kita harus menjadi “bunglon” yang tahu posisi di mana kita berada. Ingat sebuah kata mutiara arab “likulli maqoomin maqoolun, walikulli maqoolin maqoomun” artinya setiap tempat mempunyai perkataan masing-masing dan untuk setiap perkataan memiliki tempat masing-masing.
