Normalisasi Tambang Ilegal di Bangka Selatan dalam Perspektif Politik Ekologi

Oleh: Chandra Ayu Rizki – Mahasiswi Ilmu Politik, Universitas Bangka Belitung

Tambang timah ilegal sudah lama ada di Bangka Selatan. Namun, masalah ini terasa jauh lebih nyata ketika aktivitas itu terjadi langsung di depan mata kita, tepat di depan gapura Desa Balai Benih sebelum masuk ke Desa Rias. Lubang-lubang dari galian menunjukkan bahwa aturan dan perlindungan lingkungan tidak dilaksanakan dengan benar. Tempat yang seharusnya tertata justru menjadi tempat yang dibiarkan rusak tanpa jelas siapa yang bertanggung jawab.

Tidak ada yang tahu apakah penambangan di lokasi tersebut akan berhenti atau tidak. Tanah digali, timah diambil, dan kemudian dibiarkan terbuka. Tidak ada tanda-tanda pemulihan lahan, penimbunan kembali, atau papan peringatan yang menunjukkan kerusakan yang serius. Seiring waktu, lubang-lubang itu secara bertahap menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari. Orang melintas, melihat, dan kemudian menjadi terbiasa. Meskipun demikian, ketika kerusakan mulai dianggap normal, masalah yang lebih besar sebenarnya sedang muncul.

Baca Juga  Gugurnya Gugatan di Peradilan Agama: Beban Biaya yang Menghalangi Akses Keadilan bagi Masyarakat Kurang Mampu

Praktik serupa juga terjadi di dekat kebun samping rumah saya, yang lebih mengusik. Beberapa orang datang secara diam-diam pada malam hari saat sebagian orang tertidur. Mereka menggali tanah untuk mengambil timah dengan sekop, cangkul, senter, dan papan sederhana. Ini jelas bukan tindakan spontan atau kebetulan. Bekas obat nyamuk yang tersisa menunjukkan bahwa pekerjaan tersebut dilakukan dalam jangka waktu yang cukup lama dan direncanakan. Tanah tidak ditimbun kembali setelah selesai. Seolah-olah tidak ada tanggung jawab untuk memperbaiki kerusakan, lubang dibiarkan menganga.

Pada awalnya, kerusakan ini mungkin terlihat kecil. Namun demikian, jika dibiarkan berulang dan menyebar, efeknya akan semakin luas dan sulit untuk dikontrol. Tanah yang rusak tidak lagi produktif. Area yang dulunya dapat digunakan untuk berkebun berubah menjadi area yang berbahaya. Risiko kecelakaan meningkat, terutama bagi anak-anak atau orang-orang yang melintas tanpa menyadari lubang. Genangan air di bekas galian juga berpotensi menimbulkan masalah baru bagi lingkungan sekitar ketika musim hujan tiba.

Baca Juga  Metode Index Card Match – Solusi untuk Meningkatkan Hasil Belajar Peserta Didik