Efek Domino: Jika jalur ini tetap tertutup, resesi global bukan lagi ancaman, melainkan kepastian. Inflasi akan melambung, memicu kelaparan dan kerusuhan sosial di berbagai belahan dunia, termasuk negara-negara berkembang.

PBB: Titik Nadir atau Kebangkitan?

Di tengah bara yang kian memanas, mata dunia kini tertuju pada gedung kura-kura di New York. Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) berada di persimpangan jalan paling berbahaya dalam sejarahnya.

Jika PBB membiarkan Dewan Keamanan lumpuh karena veto Amerika, maka PBB resmi menjadi mayat politik—sama seperti Liga Bangsa-Bangsa sebelum pecahnya Perang Dunia II. PBB harus segera mengaktifkan resolusi Uniting for Peace. Dunia membutuhkan mediator netral yang mampu menarik rem darurat sebelum Rusia dan China memutuskan untuk terlibat secara militer lebih jauh demi membendung agresi AS-Israel.

Baca Juga  Calon Legislatif Jangan hanya Jadi Baliho Man, tetapi Juga Harus Lakukan Ini!

Reaksi China dan Rusia

Reaksi China dan Rusia terhadap serangan gabungan AS-Israel ke Iran pada Maret 2026 sangat keras, di mana kedua negara menuduh Washington sedang melakukan upaya “perubahan rezim” (regime change) secara paksa.

Berikut adalah poin-poin utama reaksi mereka:

  1. Rusia: Menuduh “Agresi Bersenjata”

Kementerian Luar Negeri Rusia menyebut serangan tersebut sebagai tindakan agresi bersenjata yang tidak beralasan terhadap negara anggota PBB yang berdaulat.

  • Kecaman Keras:Rusia menyatakan bahwa Washington dan Tel Aviv “bersembunyi” di balik isu nuklir, padahal tujuan aslinya adalah menghancurkan kepemimpinan Iran.
  • Peringatan Bencana:Moskow memperingatkan bahwa tindakan ini menjerumuskan Timur Tengah ke dalam “jurang eskalasi yang tak terkendali” yang dapat memicu bencana kemanusiaan, ekonomi, hingga radiologis.
  1. China: Desakan Gencatan Senjata Segera
Baca Juga  Krisis Budaya Musyawarah dan Mufakat

Meskipun menggunakan nada yang lebih terukur, China menyatakan “sangat prihatin” dan menuntut penghentian segera semua aksi militer.

  • Hormati Kedaulatan:China menegaskan bahwa kedaulatan, keamanan, dan integritas wilayah Iran harus dihormati sesuai hukum internasional.
  • Kembali ke Negosiasi:Beijing mendesak semua pihak untuk menahan diri dan kembali ke meja dialog guna mencegah spiral konflik yang lebih luas yang dapat mengganggu pasar energi global.
  1. Langkah Bersama di PBB

Kedua negara telah secara resmi meminta sidang darurat Dewan Keamanan PBB. Mereka berupaya menggalang dukungan internasional untuk menghentikan “Operasi Epic Fury” (nama operasi serangan tersebut) dan menekan AS agar bertanggung jawab atas kematian Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei.

Baca Juga  Menerapkan Manajemen Perubahan dengan Perspektif Gender untuk Mencapai Keadilan di Sekolah

 Kesimpulan: Menolak Normalisasi Kekacauan

Dunia tidak boleh menormalisasi gaya kepemimpinan “negara mafia”. Jika pembunuhan pemimpin negara dan serangan sepihak dianggap sebagai standar baru dalam hubungan internasional, maka kita sedang menuju abad kegelapan baru.

Tanggung jawab untuk mencegah Perang Dunia III bukan hanya di tangan para pemimpin besar, melainkan pada ketegasan organisasi internasional untuk menegakkan hukum di atas kekuasaan fisik. Sebelum terlambat, diplomasi harus dikembalikan ke meja perundingan, bukan di ujung laras rudal.