Runtuhnya Peradaban Diplomasi: Dari “Negara Mafia” Menuju Perang Dunia III?
Oleh: Sobirin Malian — Dosen Fakultas Hukum Universitas Ahmad Dahlan
Dunia hari ini, 1 Maret 2026, terbangun dalam kengerian yang nyata. Serangan militer gabungan Amerika Serikat dan Israel ke jantung pertahanan Iran bukan sekadar operasi militer biasa. Tewasnya Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei, adalah lonceng kematian bagi norma diplomasi internasional yang telah kita bangun selama delapan dekade pasca-Perang Dunia II.
Kembalinya “Politik Barbarian”
Apa yang kita saksikan di bawah kepemimpinan Donald Trump saat ini adalah pergeseran dari negara demokrasi menjadi apa yang oleh media besar seperti The Guardian dan The New York Times sebut sebagai “Mafia State” (Negara Mafia). Istilah ini bukan sekadar hiperbola. Ketika kebijakan luar negeri dijalankan dengan logika ancaman (shakedown), loyalitas mutlak, dan pengabaian total terhadap hukum internasional, maka kita tidak lagi bicara tentang diplomasi, melainkan premanisme geopolitik.
Pemikir India, Fareed Zakaria sejak 1977, sudah mengingatkan tentang fenomena illiberal democracy_demokrasi yang hanya berfungsi prosedural, sementara substansinya, berupa perlindungan hak-hak sipil dan supremasi hukum dilucuti. Namun, konsep yang lebih relevan terkait “demokrasi semu” dikemukakan oleh ahli politik Jean Baudrillard, yang menyatakan bahwa demokrasi semu adalah suatu bentuk demokrasi yang hanya bersifat formal, tetapi tidak memiliki substansi yang sebenarnya, karena kekuasaan sebenarnya masih dipegang oleh segelintir orang atau kelompok yang memiliki kepentingan tertentu.
Dalam konteks ini, ahli politik lain seperti Noam Chomsky juga telah menyatakan bahwa demokrasi semu dapat terjadi ketika ada kepentingan ingin berkuasa/menguasai lebih besar, dan bahwa media massa sering kali digunakan sebagai alat untuk memanipulasi opini publik dan mempertahankan kekuasaan.
Serangan ke Iran yang dilakukan tanpa mandat Kongres dan tanpa otorisasi PBB adalah manifestasi dari “Politik Barbarian”—sebuah tatanan di mana might makes right (kekuatan adalah kebenaran). Strategi regime change yang dipaksakan melalui kekerasan militer ekstrem telah menghancurkan topeng diplomasi transaksional yang selama ini diagungkan Washington.
Selat Hormuz: Jantung Dunia yang Tercekik
Dampaknya tidak hanya dirasakan di medan tempur. Keputusan Iran untuk menutup Selat Hormuz sebagai aksi balasan adalah serangan langsung ke lambung ekonomi global.
Energi sebagai Senjata: Dengan 20% pasokan minyak dunia yang kini tersandera, harga minyak mentah diprediksi akan menembus angka gila $150 per barel.
