Oleh: Marsinta Dewi, S.Pd — Pengajar di TKIT CAHAYA, Toboali

“Manusia Allah ciptakan dengan rasa dan kehendak yang berbeda-beda. Pada dasarnya manusia akan memilih kehendak sesuai kemampuan dan yang menyenangkan baginya. Namun sebagai hamba ciptaan Allah yang Maha berkehendak manusia pasti akan menghadapi hal yang tidak sesuai dengan harapannya. Manusia yang penuh harapan sering kali akan bertemu kegagalan. Namun manusia yang terus berdoa akan bertemu dengan penantian. Bagi hamba yang beriman hal ini telah terkonsep dari awal sebelum Allah ciptakan manusia. Allah telah menetapkan takdirnya sebagaimana dalam hadis yang berbunyi sesungguhnya Allah telah menciptakan takdir-takdir seluruh makhluk lima puluh tahun sebelum menciptakan langit dan bumi. Hadis riwayat Muslim nomor dua ribu enam ratus lima puluh tiga.

Baca Juga  4 Manfaat Puasa bagi Para Penderita Diabetes, Nomor 2 Kamu Akan Suka

Dalam Islam, Allah telah menjelaskan apa itu takdir. Takdir bukan hanya nasib, takdir adalah ketetapan Allah yang penuh ilmu dan hikmah. Allah mewajibkan setiap muslim yang beriman untuk iman pada takdir baik dan takdir buruk. Sehingga seorang hamba wajib mengimaninya tanpa protes. Allah Mahabijaksana menetapkan takdir sesuai dengan kemampuan hamba-Nya. Tidak ada ujian yang Allah berikan selain memang telah Allah mampukan hamba. Hamba bisa melewatinya dengan tetap beriman kepada Allah. Allah Maha Mengetahui tidak ada kejadian yang terjadi tanpa sia-sia.

Beberapa orang atau atau kalangan berpegang dengan konsep takdir ini membuat dia bermalas-malasan, berpendapat jika malas ini sudah Allah yang menetapkan. Ada manusia malas untuk bekerja karena berkeyakinan Allah sudah menetapkan rezekinya sehingga sedikit usaha baginya untuk mencapai rezeki itu.

Baca Juga  Jadilah Hamba yang Istiqomah, Bukan hanya Hamba Ramadan

Padahal dalam Islam Allah memerintahkan hamba-Nya untuk ikhtiar. Hal itu berdasarkan hadis riwayat Imam Tirmidzi yang berbunyi “ikatlah untamu lalu bertawakallah”. Usaha maksimal atau ikhtiar harus dilakukan terlebih dahulu sebelum berserah diri kepada Allah. Ini menegaskan bahwa tawakal bukan berdiam diri melainkan kombinasi antara tindakan manusia dan kepercayaan penuh atas takdirnya. Penerimaan datang setelah usaha maksimal, usaha maksimal.

Ikhtiar merupakan gerak tubuh manusia yang mengusahakan dengan sepenuh jiwa dan raga. Sedangkan rida adalah penerimaan dan ketenangan hati setelah semua ikhtiar yang dilakukan. Bagi seorang muslim harus sungguh-sungguh dalam menggapai keinginannya. Namun tidak berlepas diri jika Allah sudah mempunyai ketetapan dalam setiap hidupnya. Inilah yang dinamakan ikhtiar sungguh-sungguh namun harus rida karena sadar hasil akhir sudah Allah siapkan.

Baca Juga  5 Tips Stamina Tak Kendur Meski Berpuasa