Meski seorang muslim mengenal konsep ikhtiar disertai rida tak banyak egonya mengontrol segalanya. Harusnya rida yang dimiliki namun karena kehilangan, ego menguasai dan memicu penolakan terhadap takdir. Kehilangan tidak hanya berupa orang terkasih. Kehilangan harta, benda akan membuat ego manusia mengutuk apa yang telah terjadi.

Seperti tersirat dalam Qur’an surat al-Baqarah ayat 216 yang berbunyi  “diwajibkan atas kamu berperang padahal itu tidak menyenangkan bagi kamu. Tetapi boleh jadi kamu tidak menyenangi sesuatu padahal itu baik bagi kamu. Dan boleh jadi kamu menyukai sesuatu padahal tidak baik bagi kamu. Allah mengetahui sedangkan kamu tidak mengetahui”. maka peran iman dan ilmu sangat dibutuhkan dalam menyikapi takdir Allah.

Baca Juga  Rahasia Salat Berjamaah

Ketika seorang muslim telah memiliki ilmu dan iman tentang takdir segala bentuk kegagalan tidak akan membuatnya tumbang melainkan membuat hatinya makin stabil. Boleh jadi takdir saudara seimannya memiliki takdir memiliki takdir indah di matanya namun berkat ilmu dan iman tidak lantas membuatnya iri pada saudaranya. Tidak membuatnya menyalahkan takdir dan tidak berada dalam penyesalan yang berlebihan.

Orang yang tidak mempunyai ilmu meski beriman akan selalu berandai-andai mengucapkan kata seandainya ketika menemui takdir yang buruk itu dilarang karena akan menimbulkan rasa sedih dan rasa sedih yang mendalam. Menunjuk serta dan menunjukkan sikap tidak rida dan melemahkan hati seorang mukmin.

Kita memang tidak bisa memilih takdir yang akan datang tapi kita bisa memilih sikap kita. Apakah kita akan rida dengan takdirnya atau berburuk sangka kepada Allah dengan takdirnya. Gunakan ilmu dan iman dalam menyikapinya menyikapi takdir Allah. Ya, Menerima takdir bukanlah bentuk kelemahan melainkan tanda kedewasaan iman. Takdir mungkin tidak selalu sesuai rencana dan harapan kita tetapi selalu sesuai dengan kebijaksanaan Allah. Perbanyak ikhtiar, doa, dan rida karena Allah mengetahui apa yang tidak kita ketahui.”

Baca Juga  Bersyukur saat Suka dan Duka