Allahu Akbar..

Kalimat takbir itu keluar dari mulut sang marbot dengan penuh kekhusukan. Sambil mengangkat kedua tangannya pikiran sang marbot masih terpecah. Ia masih belum yakin bahwa untuk kesekian kalinya ia harus salat subuh sendirian di masjid yang megah ini. Ternyata kebesaran masjid ini tidak bisa membuat hati warganya terketuk untuk mengunjunginya, minimal setiap salat lima waktu.

Waladholliiin….

Kalimat terakhir surat alfatihah itu pun keluar dari mulut sang marbot.

Aamiin………

Demi mendengar jawaban dari belakang itu, membuat sang marbot terkejut bukan main. Perasaan dalam hatinya berkecamuk. Namun ia tetap berusaha menjaga agar salatnya tidak batal. Di dalam perjuangannya menjaga kekhusukan ibadah, ia bertanya dalam hati, siapa yang berada di belakangnya sekarang. Bukankah tadi tidak ada satu pun orang menjadi jamaah ketika ia memulai salat. Apakah mereka adalah para malaikat yang diutus untuk ikut berjamaah atau mungkin mereka iblis yang sengaja hendak mengganggu bahkan menakuti.

Baca Juga  Lidah di Panggung, Hati di Ruang Gelap

Di tengah rasa penasarannya, sang marbot tetap melanjutkan salatnya sampai paripurna. Begitu selesai salam, ia langsung menoleh ke belakang. Rasa terkejut bercampur haru bertakhta di hatinya. Hampir saja bulir air mata jatuh, tapi ia tahan. Saking terharunya ia berucap syukur. Pemandangan yang selama ini diimpikan sang marbot, subuh itu terwujud. Tiga orang hadir ke masjid untuk menjadi jamaahnya. Ketiga orang itu masih asing baginya.

Ternyata yang menjadi penolongnya kembali para musafir. Musafir seperti tahun lalu menjadi penolong salat berjamaahnya. Ternyata ketiga musafir itu hadir tepat ketika sang marbot memulai salat subuh tadi. Mereka tersenyum menyambut mimik muka sang marbot yang semringah. Ke-exicited-an sang marbot tidak bisa disembunyikan lagi. Ia bagaikan mendapat durian runtuh.

“Terima kasih, bapak-bapak!”

Baca Juga  Pantun: Musim Kemarau

Sang marbot sungguh tidak bisa berkata apa-apa selain perkataan itu.

“Mohon maaf pak, tadi kami tidak sempat meminta izin, kami hendak mudik ke seberang.”

Salah seorang musafir memberikan alasan kepada sang marbot mengapa mereka ikut berjamaah subuh itu. Kedua temannya yang lain menganggukkan kepala sambil tetap tersenyum.

***

Namun tiba-tiba sang marbot dikejutkan oleh suara benda asing yang jatuh ke seng masjid, suara itu tidak terlalu kuat namun sudah cukup untuk membangunkan sang marbot dari mimpinya. Suara itu sontak saja membuat sang marbot tersadar dari tidurnya. Ia baru sadar bahwa kegiatan salat berjamaahnya tadi hanya mimpi belaka. Ia baru sadar bahwa ia tadi tertidur setelah selesai salat subuh.

Sambil bangkit dari tempatnya tertidur, sang marbot membuka handphone di tangannya dan tanpa sengaja ia membaca berita sebuah musibah. Dalam berita itu disebutkan bahwa telah terjadi tanah longsor di jalur mudik beberapa minggu yang lalu dan imbasnya sebagian jalan tidak bisa dilalui oleh pemudik, akibatnya pemerintah mengarahkan pemudik untuk melalu jalan alternatif. Yang lebih menyedihkan kemungkinan musibah itu baru bisa di atasi setelah lebaran selesai.

Baca Juga  Menari Air

Kesedihan kembali menyerang sang marbot. Bukan hanya ia sedih terhadap musibah yang terjadi, namun ia sedih karena jalan depan masjid yang dirawatnya termasuk jalur yang tidak akan dilewati pemudik, karena terkena imbas musibah tersebut. Artinya ia akan terus memendam kerinduan terhadap para pemudik yang biasa salat berjamaah ketika mereka mudik.

***

BIONARASI PENULIS

Syabaharza adalah nama pena dari Syamsul Bahri Arza. Ia adalah Kepala MTs Al-Hidayah. Putra asli Pelabuhan Dalam Pemulutan ini sekarang tinggal di Desa Keposang Kecamatan Toboali Bangka Selatan, Kepulauan Bangka Belitung. Ia bisa dihubungi di [email protected]