Maka ia kembali ke tempat yang sempit itu, tempat Yusuf menghabiskan tahun-tahunnya.

“Wahai Yusuf, wahai orang yang sangat dipercaya, jelaskanlah kepada kami tentang tujuh sapi gemuk yang dimakan tujuh sapi kurus…” (QS. Yusuf: 46)

Perhatikan bagaimana ia memanggil Yusuf: orang yang sangat dipercaya.

Reputasi yang dibangun Yusuf di penjara tidak hilang. Justru itu yang diingat orang tentang dirinya.

Yusuf tidak menjawab dengan singkat. Ia memberikan penjelasan yang sangat jelas sekaligus memberikan strategi menghadapi masa depan.

“Kalian akan bercocok tanam tujuh tahun sebagaimana biasa. Apa yang kalian panen hendaklah kalian biarkan di bulirnya, kecuali sedikit untuk dimakan.” (QS. Yusuf: 47)

Ia menjelaskan bahwa akan datang tujuh tahun masa subur, diikuti tujuh tahun masa kekeringan yang berat.

Baca Juga  Perbedaan Pendapat Para Ulama dalam Jumlah Rakaat Tarawih

Namun yang menarik, Yusuf tidak hanya menjelaskan arti mimpi. Ia juga memberikan solusi ekonomi yang sangat matang.

Ia melanjutkan:

“Kemudian setelah itu akan datang tujuh tahun yang sangat sulit, yang menghabiskan apa yang kalian simpan sebelumnya…” (QS. Yusuf: 48)

Lalu setelah masa sulit itu, akan datang kembali masa kelapangan.

“Kemudian setelah itu akan datang tahun ketika manusia diberi hujan dan pada masa itu mereka memeras anggur.” (QS. Yusuf: 49)

Penjelasan ini menunjukkan sesuatu yang luar biasa.

Yusuf bukan hanya orang yang memiliki spiritualitas tinggi. Ia juga memiliki kecerdasan praktis. Ia mampu membaca masa depan dan menyiapkan langkah konkret.

Bagi banyak orang, penjara adalah tempat kehilangan potensi. Namun pada diri Yusuf, penjara tidak mematikan kemampuannya. Justru di sanalah ia semakin matang.

Baca Juga  Menjaga Salat dan Zakat

Bagi parenting, bab ini memberikan pelajaran penting.

Anak-anak tidak hanya perlu dibentuk secara moral, tetapi juga secara intelektual. Keimanan yang kuat perlu berjalan bersama kemampuan berpikir yang tajam.