Ketika Takdi Membuka Pintu (QS. Yusuf: 43–49)

Oleh: Muhammad Bachtiyar — Pengajar di Ponpes Qur’an CAHAYA, Toboali

Dalam hidup manusia, ada masa ketika segala sesuatu terasa tertahan. Upaya sudah dilakukan, kesabaran sudah dijalani, tetapi perubahan belum juga terlihat.

Namun dalam waktu yang tidak diduga, satu peristiwa bisa mengubah arah kehidupan.

Beberapa tahun setelah Yusuf berada di penjara, sebuah kejadian terjadi di istana. Raja Mesir bermimpi, dan mimpi itu membuatnya gelisah.

Al-Qur’an menggambarkan mimpi tersebut:

“Sesungguhnya aku melihat tujuh ekor sapi gemuk dimakan oleh tujuh ekor sapi yang kurus, dan tujuh bulir gandum yang hijau serta tujuh lainnya yang kering…” (QS. Yusuf: 43)

Baca Juga  Ke Toilet Membawa HP yang Terinstall Al-Qur’an, Bolehkah?

Mimpi itu tidak biasa. Ia terasa seperti pesan, tetapi tidak ada seorang pun yang mampu menjelaskan maknanya.

Raja kemudian bertanya kepada para pembesar dan penasihatnya:

“Wahai para pemuka, jelaskanlah kepadaku tentang mimpiku jika kalian mampu menafsirkan mimpi.” (QS. Yusuf: 43)

Namun jawaban yang datang justru menunjukkan kebingungan mereka.

“Mereka berkata: ‘Itu hanyalah mimpi yang kacau, dan kami tidak mengetahui tafsir mimpi seperti itu.’” (QS. Yusuf: 44)

Di sinilah takdir mulai bergerak.

Seseorang yang dulu pernah berada di penjara bersama Yusuf tiba-tiba teringat sesuatu. Ia adalah orang yang pernah meminta tafsir mimpi dari Yusuf, orang yang kemudian kembali bekerja di istana.

Baca Juga  Belajar dari Kisah Nabi Yusuf (Bagian 28): Hikmah di Balik Siasat

Al-Qur’an menggambarkannya:

“Dan berkatalah orang yang selamat di antara keduanya dan baru teringat setelah beberapa waktu…” (QS. Yusuf: 45)

Ingatan itu datang terlambat, tetapi tidak sia-sia.

Ia berkata kepada raja bahwa ada seseorang di penjara yang mampu menafsirkan mimpi dengan sangat tepat. Ia meminta izin untuk menemui orang itu.