MBG di Bangka Belitung: Antara Investasi SDM atau Sekadar Proyek “Kenyang Semalam”?

Oleh: Fikri — Mahasiswa Universitas Muhammadiyah Bangka Belitung

Program Makan Bergizi Gratis (MBG) kini bukan lagi sekadar narasi di meja birokrasi, melainkan langkah konkret yang mulai disimulasikan di berbagai sudut Kepulauan Bangka Belitung (Babel). Namun, sebagai elemen akademis, kita tidak boleh terjebak dalam euforia simbolis. Kebijakan ini harus dibedah dengan dialektika yang jernih: Apakah MBG akan menjadi solusi fundamental bagi krisis gizi, atau justru terjebak menjadi program yang “obesitas anggaran” namun “anemia dampak”?

Paradoks Angka dan Realitas Lapangan

Data Survei Status Gizi Indonesia (SSGI) 2024 menunjukkan prevalensi stunting di Babel berada di angka 20,1%. Meski ada penurunan tipis 0,5% dari tahun sebelumnya, kita masih berada di ambang batas kronis WHO (20%). Angka ini adalah alarm keras bahwa intervensi gizi di Negeri Serumpun Sebalai belum sepenuhnya menyentuh akar masalah.

Baca Juga  Literasi Bangka Selatan Kare

Persoalannya, apakah membagi piring makanan di sekolah adalah obat ajaib (silver bullet)? Jika MBG hanya dipahami sebagai aksi “mengenyangkan perut”, maka program ini hanya akan menjadi instrumen populis sesaat. MBG harus bertransformasi menjadi investasi sumber daya manusia (SDM) jangka panjang yang terintegrasi.

Tantangan Kedaulatan: Jangan Sampai “Impor” Sayur

Salah satu titik kritis yang paling krusial bagi Babel adalah kerentanan logistik. Kita tahu bahwa ketergantungan pangan Babel terhadap luar pulau masih sangat tinggi. Di sini, MBG menghadapi ujian kedaulatan.