Mudik Backpacker
Dengan sisa keberaniannya, penumpang backpacker kembali bertanya kepada si bapak.
Tiba-tiba mata si bapak berkaca-kaca. Bulir-bulir air menetes dari matanya tanpa bisa dicegah. Sang penumpang backpacker menjadi bingung. Dalam hatinya bertanya-tanya, kenapa ketika disebut nama anak bapak itu mendadak bersedih.
Tiba-tiba bapak itu menyodorkan secarik kertas kumel. Dengan ragu penumpang backpacker itu menyambutnya dan memberikan isyarat izin untuk membukanya. Secarik kertas itu ternyata berisi nama seseorang dan alamatnya.
***
“Sudah berapa lama Bapak tidak berjumpa dengan anak?”
“Saya sudah lupa.”
Akhirnya bapak itu mau menjawab pertanyaan penumpang backpacker. Sang penumpang backpacker berani bertanya demikian setelah tahu bahwa nama dan alamat yang tertera dalam kertas yang diberikan adalah kepunyaan anak bapak itu.
“Dulu dia pamit ingin bekerja di kota seberang.”
“Ia janji ketika lebaran akan pulang menemui saya dan istri.”
“tapi…………”
Bapak itu menghentikan ceritanya. Terlihat dari mukanya ia sangat sedih dan tidak kuasa melanjutkan kisahnya.
Penumpang backpacker masih setia menunggu lanjutan cerita si bapak. Ia yakin bapak itu akan melanjutkan ceritanya, namun perlu menenangkan diri dahulu.
“Tapi, sampai istri saya meninggal, ia tidak pernah pulang.”
“Memberi kabar juga tidak pernah.”
Mendengar cerita si bapak. Rasa empati muncul dari hati penumpang backpacker. Ia tidak bisa membayangkan betapa rindunya si bapak kepada anak yang pergi merantau itu. Apalagi anak itu adalah anak semata wayangnya. Saking rindunya si bapak nekat untuk mencari keberadaan anaknya. Sungguh luar biasa. Biasanya anak yang akan menemui orang tuanya, sekarang ia menyaksikan pengorbanan orang tua yang luar biasa.
Pergi sendirian dengan modal pas-pasan dan tanpa ada kepastian akan menemukan anaknya adalah sebuah pengorbanan orang tua yang luar biasa.
“Lalu apa yang bapak bawa dalam plastik itu?”
“Ini makanan kesukaan anak saya, nanti kalau saya bertemu tentu dia akan sangat senang.”
Untuk kesekian kalinya penumpang backpacker merasa sedih. Ia membayangkan seandainya ini adalah orang tuanya, betapa berdosanya ia karena rela membuat orang tuanya menderita. Bapak ini tetap ingat makanan kesukaan anaknya yang jelas-jelas sudah melupakannya dalam waktu yang lama. Namun ia tidak bisa membantu lebih banyak lagi. Ia hanya bisa berdoa semoga si bapak menemukan anaknya.
***
Setelah melalui perjalanan empat jam lebih, akhirnya kapal itu sampai ke tujuannya. Tampak sebuah pelabuhan yang tidak kalah besar dengan pelabuhan tempatnya berangkat tadi. Sebuag tulisan besar sangat jelas menunjukkan identitas pelabuhan tersebut. Penumpang yang tadi tertidur pulas satu persatu mulai terjaga. Ada yang terkejut karena tidak terasa sudah sampai ke tujuan. Ada masih sempat mengelap air dari mulut yang keluar waktu tidur tadi.
Ada yang mulai menginventaris barang bawaannya. Satu persatu dicek biar tidak ada yang tertinggal ketika keluar dari kapal. Suara mesin kendaraan dari ruang bawah kapal mulai ikut meramaikan. Perlahan kapal mulai mendekat ke pelabuhan. Tali-tali raksasa mulai dilemparkan. Tali-tali itu kemudian disambut oleh orang yang ada di pelabuhan dan dikaitkan ke tempatnya dengan sempurna. Sementara di atas nakhoda kapal berusaha dengan keahliannya menyandarkan kapal raksasa itu dengan baik dan benar.
Penumpang backpacker juga bersiap untuk turun. Tas ransel besar nangkring di pundaknya. Tas itu sangat besar. Kemungkinan ia akan melancong dalam waktu yang lama. Matanya melirik ke sana kemari. Tampak ada yang dicarinya, tapi tidak ditemukannya. Ia pun bergegas menuju tangga turun meninggalkan tanda tanya, karena tidak menemukan apa yang dicarinya.
Di pelabuhan sudah ramai orang wara-wiri. Ada yang bersiap untuk menaiki kapal yang barusan sandar dengan sempurna itu. Ada yang berusaha merayu penumpang untuk menawarkan jasanya mengangkut barang dagangan. Penumpang backpacker terus berjalan menyusuri jalan pelabuhan itu menuju kendaraan yang akan ditumpanginya.
Sebuah kendaraan umum yang akan mengantarnya ke tempat yang dituju. Tapi, sebelum ia sampai ke kendaraan yang dicari, tiba-tiba matanya tertuju kepada sosok yang sangat familiar baginya. Ya itu adalah bapak yang ditemuinya di atas kapal tadi. Terlihat bapak itu melambaikan tangan seraya tersenyum. Sebuah lambaian dan senyum yang penuh makna.
Penumpang backpacker itu tidak mengetahui arti lambaian dan senyum bapak itu. Apakah itu senyum kebahagiaan atau senyum kegetiran. Perlahan sosok bapak itu mulai menghilang dari pandangannya bersamaan dengan bergeraknya kendaraan yang ditumpangi oleh penumpang backpacker itu. ***
BIONARASI PENULIS
Syabaharza adalah nama pena dari Syamsul Bahri Arza. Ia adalah Kepala MTs Al-Hidayah. Putra asli Pelabuhan Dalam Pemulutan ini sekarang tinggal di Desa Keposang Kecamatan Toboali Bangka Selatan, Kepulauan Bangka Belitung. Ia bisa dihubungi di [email protected]
