Karya: Maria Sareng Putri

Editor: Dian Chandra

CERPEN, Kisah Pahlawan Nasional Republik Indonesia ialah judul buku yang kini sedang dibaca oleh seorang gadis, di salah satu meja di perpustakaan sekolah.

Seperti biasa, sejak ia duduk di bangku SD hingga kini berada di bangku SMA, jam istirahat adalah jam literasi bagi dirinya. Dengan segera ia akan pergi ke perpustakaan.

Kau tahu, buku tersebut adalah buku ke sekian yang pernah ia baca. Siapa sih yang tak mengenal dirinya? Uh, hampir se-antero sekolah mengenal dirinya.

Gadis dengan rambut kepang satu yang menjadi ciri khas baginya. Banyak juga guru-guru serta siswa-siswi lainnya yang mengenal dirinya karena keaktifannya di sekolah maupun di organisasi.

Di sekolahnya, ia menjadi siswi pertama yang berani masuk ke dalam bagian OSIS. Di mana ia adalah gadis beragama Katolik, sepanjang sejarah SMA Galaksi.

“Zel, yuk balik ke kelas. Udah bell tuh. Jangan sampai telat masuk, entar kita dihukum …,”

“Emangnya kamu mau? Aku sih ogah!” Suara cempreng siswi berambut sebahu itu rupanya mampu melengserkan posisi si gadis.

Ia yang semula duduk-duduk, mendadak berdiri dan mulai beranjak ke luar perpustakaan. Sungguh, ia tak ingin sahabatnya itu semakin cerewet dan berakhir membuat kebisingan-kebisingan di perpustakaan.

Karena dirinya, Theresia Gaziela Asteri, gadis kutu buku, yang mempunyai keinginan dan kemauan yang besar
serta cita-cita yang tinggi.

Gadis yang biasanya disapa Gazel atau Azel itu, kini sudah duduk di bangkunya bersama dengan sahabatnya yang sudah seperti saudara sendiri. Mereka sudah bersahabat selama satu tahun lebih. Sejak kelas sepuluh.

Gazel yang pendiam, kalem, ambis, gadis sederhana, dan berwajah pas-pas-an. Berbanding terbalik dengan Zahra Akatiffa Gava Putri yang biasa disapa Zahra.

Gadis yang berparas cantik, sedikit cerewet, namun soleha. Zahra tidak begitu peduli dengan nilai.

Anak konglomerat yang dengan tidak sombongnya mau berteman dengan Gaziela yang jauh di bawanya soal harta kekayaan.

Persahabatan mereka berdua sangat unik dengan segala perbedaan yang ada di antara keduanya. Dari segi manapun, termasuk keyakinan yang berbeda.

Namun, bagi keduanya perbedaan bukanlah suatu batasan untuk menjalin hubungan persahabatan yang baik, karena bagi mereka persahabatan bukan soal perbedaan tapi soal persatuan dan ketulusan hati.

Pelajaran sudah dimulai, saat ini pelajaran matematika peminatan. Pelajaran yang cukup menguras otak, yang didalamnya berisi angka-angka yang membuat pusing hanya dengan melihatnya saja.

Namun bagi seorang Gaziela, matematika adalah pelajaran yang menyenangkan dan sangat seru untuk melatih kinerja otak.

Pun ditambah dengan cara mengajar guru yang menyenangkan, tidak seperti guru matematikanya saat di bangku SD dan SMP.

“Zel, kamu ngerti? Aku gak ngerti sama sekali! Kepala aku mau pecah rasanya,” bisik Zahra pelan kepada Gaziela.

Baca Juga  Rasa

“Ssst! ucapnya sambil menaruh jari telunjuknya di depan bibir tanda diam.

“Diam Ara, nanti kita dimarahi Buk Vina kalo berisik. Kamu tenang aja, nanti aku bantuin kamu deh. Tenang aja, aku kan gak pelit ilmu.”

“Dih, sombong banget kamu!”

“Hehehe … bercanda Ara.”

“Iya tahu, santai aja.”

Perdebatan kecil seperti ini sudah biasa bagi mereka.

“Zahra! Gaziela! Perhatikan papan tulis … jangan asik mengobrol berdua. Nanti kalian tidak mengerti apa yang dijelaskan,” tegur Buk Vina.

“Kamu sih,” ucap Zahra.

“Lah, kok aku? Kan kamu yang mengajak ngoobbrol duluan, Zahra.”

“Ya, udahlah diam entar di marahin lagi.”
“Kamu eskul nggak hari ini?”

“Aku ekskul hari ini. Kamu duluan aja. Aku nanti bisa telepon mama, minta tolong tetangga jemput aku,” balas Gaziela yang sudah mengerti maksud dari sahabatnya itu, pasti ingin mengajak pulang bersama.

“Yakin bakalan dijemput?”

“Iya, yakin! Kamu tenang aja. Udah sana pulang, udah ditunggui Pak Sopir itu.”

“Ya, udah. Aku duluan … kalo ada apa-apa telepon aku aja.”

Setelah kepergian Zahra menuju gerbang sekolah, Gaziela juga ikut melangkahkan kaki berlawanan arah menuju ke ruangan eskulnya.

Gazel memang memasuki eskul KSN di bidang matematika. Karena banyak peluang yang bisa di dapatkan dari mengikuti KSN. Terutama beasiswa. Beasiswa bisa diakses melalui KSN.

Maka dari itu Gaziela mengikutinya. Tahun kemarin Gaziela sempat gagal, tidak dapat mengikuti KSN di tingkat kabupaten karena tak lolos seleksi sekolah.

Namun, bagi seorang Gaziela itu hal yang biasa. Pantang menyerah itu kuncinya. Maka di tahun ini tepat ketika ia kelas sebelas, Gaziela akan berusaha semaksimal mungkin untuk bisa ikut bertempur di kabupaten.

Selagi masih ada kesempatan kedua  ia tak akan menyia-nyiakannya. Karena setelah ini tak ada yang namanya kesempatan ketiga.

***

Waktu kini menunjukkan pukul tiga pagi. Itu artinya hari masih terlihat gelap.

Lampu-lampu jalanan kota masih terlihat sangat terang.

Di salah satu ruang dengan dinding papan usang yang usianya telah tua, jauh lebih tua dari pada usia anak sulung yang ada di ruang itu –yang berumur 16 tahun– ada Gaziela di dalamnya. Ia dihadapkan dengan rumus-rumus fisika.

Orang- orang di rumah sudah bangun kecuali dua adik kecilnya, ibunya kini sedang memasak di dapur, sedangkan sang ayah sedang meminum secangkir kopi hitam hangat di hadapannya.

Ayah Gaziela yang biasa disapa Pak Rahmat itu memandang putri sulungnya dengan pandangan yang sulit di-artikan.

Pandangan seorang ayah itu pasti akan sulit dimengerti oleh anak-anaknya.

Baca Juga  Mimpi Warisan

“Gazell, enggak capek ya belajar terus? Istirahat dulu aja. Semalam ‘kan udah belajar sampai jam dua belas. Nanti yang ada kamu mmalah sakit,” tegur pria paruh baya itu setelah lama terdiam hanya memperhatikan kegiatan sang putri. Ada gurat khawatir di wajahnya.

“Ayah tenang aja, Gazel bakalan baik-baik aja. Gazel harus belajar karena besok ulangan fisika … kalo nilainya gak bagus gimana? Nanti Gazel gak bisa dapet beasiswa,” ucap Gazel mencoba meyakinkan sang Ayah, agar tidak khawatir.

“Ya, udah tapi jangan dipaksakan … kalo capek, istirahat aja dulu ya, Nak!”

“Siap, Kapten!” Balas Gazel, sambil memperagakan gerakan hormat. Ayah tersenyum tipis melihat semangat sang putri. Pandangannya menerawang, mengingat kehidupan yang saat ini dijalani oleh keluarganya.

“Gazel, maafin ayah, ya. Karena ayah, Gazeel harus hidup susah sama ibuk dan adik- adik. Maafin ayah karena kamu harus mati-matian belajar.

Saat hari libur, kamu bukannya istirahat, seperti anak lain … tapi harus kerja sama ayah dan ibu. Maafin ayah, karena belum bisa jadi ayah yang baik.”

Mendengar hal itu Gazel seketika berhenti menulis dan memilih menghampiri Sang Ayah, duduk lebih dekat di sampingnya, lalu memeluknya dengan erat.

“Siapa yang bilang, Ayah Gazel ini gak baik? Ayah, ayah gak boleh nyalahin diri ayah sendiri ini semua itu takdir ayah. Ayah harus tahu ..m kalo ayah adalah ayah terhebat dan terbaik yang Gazel punya … dan gak semua anak di dunia ini bisa punya ayah seperti Ayah Gazel. Dan rezeki itu bukan hanya soal uang atau harta, kebahagiaan, oraang tua lengkap, punya dua adik kecil yang selalu bisa naikin mood kakaknya, nyemangatin kakaknya, punya keluarga harmonis itu juga rezeki namanya. Jadi ayah gak boleh mikir yang aneh-aneh, ya, janji,” ucapnya panjang lebar, menyodorkan jari kelingkingnya ke hadapan sang Ayah tanda janji.

Ayah tersenyum, “Janji!”

***

“Astaga, ini bus gak jalan apa gimana, sih? Ini udah siang banget, bisa telat aku,” gerutu Gaziela mondar –mandir kebingungan.

“Gazel, bus sekolah gak jalan?” tanya sang Ibu.

“Gak tahu Bunda, ini Gazel juga hampir telat.”

“Ya, udah, tunggu dulu aja. Jangan menggerutu terus.”

“Tin! Tin! Woy, ikut gak ke sekolah bareng?” Suara yang terdengar bersamaan dengan kepala yang keluar dari dalam mobil mewah hitam itu, sukses mengagetkan Gaziela.

“Astaga, Zahra! Kamu buat kaget aku aja,” ucap Gaziela setelah mengetahui pengendara mobil tersebut adalah sahabatnya, Zahra. Segera turun dari mobil menghampiri ibu dan anak itu, untuk menyalami tangan Bunda Gaziela .

Pada akhirnya Gaziela menumpang mobil Zahra, dan itu membuat Gaziela mabuk. Bagaimana Gaziela tidak mabuk, Zahra mengendarai mobil seperti pembalap  jelas Gaziela yang tidak terbiasa akan berakhir mabuk.

Baca Juga  Senja di Pagi Hari

***

“Gaziela, selamat nilai kamu paling tinggi di kelas ini,” ujar guru fisika itu.

“Iya, Buk, terimakasih. Ini adalah bukti dari usaha tidak pernah mengkhianati hasil.”
Bel tanda Jam istirahat kedua berbunyi nyaring. Seperti biasanya jam istirahat Gaziela akan selalu pergi ke perpustakaan dan Zahra akan ke mushola untuk menjalankan ibadah shalat Dzuhur.

Setelah memasuki perpustakaan mengisi daftar hadir, lalu sedikit bercengkerama dengan Ibuk penjaga perpustakaan, Gaziela  segera menuju ke salah satu rak buku, dan mengambil buku dengan judul, “Olimpiade Matematika. Seri Kecepatan.” Buku yang menjadi pedoman untuknya dalam mengikuti KSN, selain melalui buku bacaanz referensi pembelajaran diakses oleh Gaziela dengan internet.

Kali ini materi yang dipelajari oleh Gaziela adalah mengenai kecepatan. Di mana rumus kecepatan adalah v=s:t. Pengertian kecepatan, bagaimana cara mengukur kecepatan dan lain sebagainya.

***

“Selamat pagi.”

“Pagi juga, Buk! balas semua murid kompak. Hari ini pengumuman seleksi KSN matematika, tingkat sekolah. Rasanya hari begitu cepat berlalu sudah satu bulan mereka belajar dan hasilnya akan disampaikan hari ini. Gaziela berada di barisan paling belakang, hanya diam menundukkan kepala. Pasrah apapun hasilnya ia akan menerimanya.

“Terimakasih kalian semua sudah mau untuk berproses sejauh ini. Ibu bangga atas kerja keras yang kalian lakukan.”

Ibuk sangat mengapresiasi hal itu.” Hening. Tak ada yang bersuara, mereka fokus mendengarkan setiap kata yang keluar dari lisan sang guru pendamping selama ekskul.

“Apapun hasil yang kalian terima, syukuri dan jangan merasa sedih … tetap semangat. Di antara duabelas orang di hadapan saya saat ini, hanya akan ada tiga orang yang terpilih, berkesempatan bertanding membawa nama sekolah. Dan untuk yang belum berkesempatan Ibuk harap kalian tidak putus asa, masih ada banyak perlombaan yang bisa kalian ikuti … ”

“Baiklah, ini adalah waktu yang kalian tunggu-tunggu. Saya akan membacakan nama-nama pesertanya.”

Gaziela merasa sangat gugup sekarang,sekaligus takut pikiran negatif memenuhi isi kepalanya sekarang.

“Selamat kepada Theresia Gaziela Asteri, kamu nama pertama yang lolos mengikuti KSN tingkat kabupaten.”

Kaget? Tentu saja, sangat. Gaziela sangat bahagia rasanya seperti mimpi. Namun, nyatanya tidak ini nyata, real. Mungkin ini sedikit lebay tapi Gaziela ingin menangis rasanya, ia menutup wajahnya dengan kedua telapak tangannya.

“Ayah, Bunda, Gazel, lolos. Terimakasih Tuhan.

***

Kompetensi Sains Nasional (KSN), hari ini dilaksanakan. Penantian yang panjang. Usaha dan doa telah dijalankan. Hari ini saatnya berperang, berlomba -lomba. Siapa yang akan kalah dan siapa yang akan menang.