Gaziela
Di deretan siswa-siswi dengan almameter kebanggaan sekolah masing-masing ada Gaziela di sana dengan almameter merah membara milik SMA Galaksi.
Kompetisi dimulai dengan tes soal individu. Setelah menyelesaikan soal individu kini soal rebutan di babak grand final. SMA Galaksi akan melawan SMA Bumi Putra.
SMA yang tahun kemarin mendapatkan juara 1 di bidang matematika. Memang setiap tahunnya SMA Galaksi dan SMA Bumi Putra akan selalu bergantian menempati posisi 1 dan 2. Sudah seperti rival.
Pembawa acara mulai membacakan soal.
“Baik saya akan membacakan soal pertama disimak baik-baik. Soal hanya dibacakan satu kali, tidak ada pengulangan dan setelah saya bacakan tekan tombol di hadapan Anda lalu jawab soalnya,” ucap sang pembawa acara.
“Diberikan a>0, b>0, a>b dan C0. Ketidak samaan yang tidak selalu benar adalah ….”
“Tett!”
“SMA Bumi Putra!”
“a>C/²>B/C²,” ucap siswa Bumi Putra.
“Benar!”
“Berapakah jumlah digit-digit pada bilangan 2²⁰⁰⁹×5²⁰¹⁰?”
“Tett!”
“SMA Galaksi!”
“Lima,” jawab Gaziela.
“Benar.”
“Baiklah, kita akan memasuki babak grand final di mana saat ini bisa kita lihat skor seimbang 14:14. Soal terakhir ini adalah soal yang cukup mudah, siapa pun yang bisa menjawab akan memenangkan, kita saat ini hanya membutuhkan kecepatan. Soalnya adalah jika X-4>X dan X + Y >4 ,maka ….”
“Tett!’
“SMA Galaksi.”
“X>0 dan 4>0”
“Dan jawabannya. Benar!”
“Selamat kepada SMA Galaksi.”
Ini saat yang ditunggu-tunggu, penentuan bagi seorang Gaziela, berhasil memecahkan rekor kabupaten dan bahkan kini nasional. Pembawa acara telah memulai acara, “Saya akan membacakan pemenang Kompetisi Sains Nasional bidang matematika,” ucap sang Pembawa Acara.
“Dari juara ketiga. Selamat kepada Leonardo Atma Dipura dari SMA Rajawali.”
“Silahkan maju ke depan.”
“Juara kedua dimenangkan oleh SMA Bumi Putra atas nama Giovano Anandra.”
“Dan juara pertama. Kami ucapkan selamat kepada Theresia Gaziela Asteri SMA Galaksi.”
Bahagia tiada tara, Gaziela langsung bersujud bersyukur atas nikmat yang telah Tuhan berikan. Terharu sekali rasanya.
“Gaziela, Ibuk bangga atas pencapaian kamu,” ucap sang Guru Pendamping.
“Terimakasih, Buk.”
“Sama-sama, silahkan maju ke depan.”
“Iya, Buk.”
“Gaziela, ada yang ingin kamu sampaikan?”
“Ada, Kak.”
“Baik, silahkan.”
“Selamat sore, semuanya. Rasanya ini seperti mimpi, tidak ada di kepala saya sampai di titik ini. Pencapaian yang sangat luar biasa bagi saya, bisa memegang piala ini,” ucapnya sambil sedikit mengangkat piala miliknya.
“Pencapaian saya saat ini tidak lepas dari peran doa dan dukungan yang datang dari oraangtua saya yang paling utama, kedua adik kecil saya yang ada di rumah, keluarga besar saya, sahabat saya Zahra, guru pendamping saya yang rela mengajari saya ….”
***
Gaziela baru kembali kerumah pagi hari pukul delapan. Suasana rumahnya di pagi kali ini
berbeda. Sepi, seperti semua penghuni rumah pergi ke luar rumah. Membuat Gaziela heran.
“Shalom. Ayah, Bunda, Adek, kalian di mana?”
“Shalom, Gazel. Anak bunda udah pulang?” tanya wanita paruh baya yang baru kembali dari dapur, disusul sang suami dan dua anak laki-lakinya.
“Gimana hasilnya, Nak?” tanya sang Ayah.
“Berhasil Ayah, Gazel dapat juara satu.”
Kebahagiaan mulai bermunculan saat itu di keluarga kecil tersebut.
***
Hari begitu cepat berlalu, kini Gaziela telah duduk di bangku kelas XII dan sedang di semester akhir. Bulan-bulan ini pendaftaran kuliah sudah mulai dibuka dimana-mana.
Berbicara mengenai kelas XII, banyak hal atau kasus yang bisa kita jumpai disini. Entah soal bingung
memilih jurusan apa di perguruan tinggi, takut salah mengambil jurusan dan akan berakibat fatal nantinya.
Target universitas dan cita-cita yang disusun matang-matang dulunya,bternyata semuanya bisa berubah ketika sudah kelas XII. Berubah mindset-nya ketika di kelas XII .
Bahkan kasus kata “menyesal” tak jarang kita temui, menyesal karena tidak belajar sungguh-sungguh, tidak belajar dengan fokus saat kelas X dan XI lalu, pada kelas XII akan kebingungan. Dan berbagai macam kasus lainnya.
Dokter satu kata seribu harapan, sejuta usaha, semiliar doa. Gaziela sejak kecil sangat menginginkan menjadi dokter. Namun, di satu sisi sang Ayah dan Bunda, berpendapat berbeda mereka kurang setuju karena biaya menjadi seorang dokter tidak lah sedikit, butuh ratusan juta.
Karena takut tidak dapat membiayai anak perempuannya mereka menyarankan untuk menjadi guru saja, memang biayanya juga cukup banyak tapi tidak sebanyak biaya menjadi seorang dokter. Bimbang rasanya antara mengikuti kata hati dan kemauan diri sendiri atau oraang tua.
Gaziela juga mempunyai universitas impian yang sudah ia damba-dambakan sejak lama. Namun, ia ragu, takut, dan tidak percaya diri. Takut nantinya tidak lolos tes SNBP di universitas yang ia impikan.
Universitas impiannya adalah UGM.
Siapa yang tidak mengetahui universitas satu ini? Namanya sudah terkenal di seluruh Indonesia, universitas yang terkenal dengan mahasiswa yang cantik dan ganteng, pintar, dan anak-anak konglomerat. Kampus negeri yang terkenal. Namun tidak mudah untuk masuk ke sana, bergabung menjadi mahasiswa UGM.
“Gazel, kamu masuk universitas mana? Mengambil jurusan apa?” pertanyaan beruntun itu dilontarkan oleh Zahra.
Saat ini mereka sedang berada di taman belakang sekolah karena perpustakaan hari ini tidak di buka, maka tempat kedua untuk bersantai adalah taman belakang
sekolah.
“Aku bingung banget mau masuk jurusan apa ….” yang langsung mendapat tatapan heran dari Gaziela.
“Kenapa kamu bingung? Bukannya kemarin kamu bilang mau masuk jurusan hukum, kan? Dan di UGM?” Gaziela balik bertanya.
“Iya, itu maunya aku … kalo maunya Abi sama Umi bukan hukum tapi manajemen properti. Kamu tahukan aku anak tunggal dan harapan Abi dan umi … ya hanya aku, jadi aku harus lanjutin bisnis Abi,” terang Zahra.
“Ternyata kita sama, Ra. Ayah dan Bunda maunya aku jadi guru tapi aku nggak mau jadi guru. Aku maunya jadi dokter, itu impian aku sejak kecil.”
Mereka punya nasib yang sama antara mempertahankan ego sendiri atau mengikuti kemauan orang tua.
“Jadi kita harus apa, Zel? Relain mimpi aku demi ego Abi dan umi?” tanya Zahra pada Gaziela. Matanya sudah berkaca-kaca siap menumpahkan cairan bening.
“Iya, kubur dalam-dalam. Karena sekeras apapun kamu menolak untuk mengikuti apa kata mereka tetap gak bisa. Restu orangtua itu penting,” jawab Gaziela tegas.
“Itu gak adil, Zel! Aku dan kamu punya mimpi. Kiita yang jalanin semuanya … bukan mereka, kenapa harus kita yang ngalah?”
“Karena tanpa mereka kamu gak bakalan jadi apa-apa, mimpi mereka jauh lebih penting.”
“Kamu pernah dengar cerita Buk Rinna ‘kan, mengenai dia yang gagal karena tidak mengikuti kemauan orang tuanya, namun setelah dia menurutinya semuanya sesesuai dengan apa yang diinginkan, terwujud,” ucap Gaziela mencoba meyakinkan Zahra untuk menuruti kemauan orang tuanya.
“Aku tahu memang berat, tapi semakin hari bebannya akan berkurang …. percaya sama aku, Ra,” tutur Gaziela sambil mengusap punggung Zahra, menenangkan gadis itu yang tiba-tiba menangis.
“Iya, aku mau nurutin kemauan Umi dan Abi.”
***
Pendaftaran gelombang kedua penerimaan mahasiswa baru Universitas UGM sudah dilaksanakan. Baik Zahra maupun Gaziela keduanya sudah mendaftar.
Zahra yang memilih jalur Mandiri dan Gaziela yang mengikuti jalur SNBP. Karena jika ia memilih jalur mandiri, sudah pasti dia tidak bisa membayarnya.
Hari ini Senin, 17 April 2023, pengumuman lolos tidaknya dia di jalur SNBP diumumkan. Zahra dan Gaziela sekarang berada di perpustakaan sekolah, dihadapkan dengan handpone milik Gaziela yang sebentar lagi akan memunculkan nama-nama peserta yang lolos jalur SNBP di UGM .
Kling! Suara notifikasi handpone milik Gaziela berbunyi dan sudah dipastikan itu notifikasi pengumuman. Dengan rasa penasaran yang tinggi, Gaziela segera mengambil handphone-nya, membuka notifikasi yang baru masuk, berdoa sebentar lalu membuka mata.
“Theresia Gaziela Asteri, dinyatakan lolos jalur SNBP.”
“Aaaa … Gazel kamu lolos?” teriak Zahra, kesenangan lalu memeluk Gaziela dengan kencang, melupakan fakta bahwa mereka sedang di perpustakaan.
Usaha, biar kemauan dan doa lah yang akan membawa kamu ke dalam kesuksesan. Jangan takut gagal, gagal adalah proses kamu untuk bisa sukses. Jangan pernah menyerah, pantang mundur dan terus berproses.
BIODATA NARASI
Maria Sareng Putri, siswi SMAN 1 Payung.
Gadis kelahiran desa Payung pada 12 Mei 2007 ini, sekarang sudah duduk di bangku SMA kelas satu.
Sejak kecil ia sudah mempunyai hobi membaca dan menulis, sejauh ini baru 1 karya yang ia buat untuk mengikuti perlombaan di tingkat SMA. Saat ini dia berdomisili di Dusun Air Semut, salah satu dusun yang ada di Provinsi Bangka Belitung. Mempunyai cita-cita yang sangat tinggi, impiannya sejak kecil, menjadi seorang dokter.
Selain membaca dan menulis dia mempunyai hobi di dunia perektingan dan bernyanyi, serta belajar adalah hal yang utama, termasuk dalam hobinya karena setiap hari dia harus terus belajar.
Jika ingin mengenal lebih dekat tentangnya kamu bisa menghubunginya melalui kontak whatsaap-nya di 081271081813.

Tinggalkan Balasan
Anda harus masuk untuk berkomentar.