Amarah di Istana, Pusara di Ujung Desa
Mat Damai mencoba membawa Siti ke rumah sakit di pusat kota, wilayah Mat Laut. Namun, di jembatan, ia dihadang oleh moncong senapan anak buah Mat Angin. “Putar balik! Tidak ada akses ke wilayah pengkhianat!” teriak prajurit itu.
Mat Damai memohon, air matanya jatuh di atas kening Laras yang panas. “Tuan, anak saya butuh obat. Ini bukan soal politik.” “Aturan adalah aturan, Pak Tua!” bentak sang prajurit, yang sebenarnya juga merasa iba, namun takut pada titah sang Jenderal.
Mat Damai pun berputar arah menuju klinik militer di wilaya Mat Angin. Namun di sana, ia justru dihadang oleh massa pendukung Mat Laut yang melakukan aksi blokade jalan. Mereka melempar batu ke arah siapa pun yang dianggap berafiliasi dengan militer. Sebuah batu nyasar mengenai bahu Mat Damai, membuatnya tersungkur bersama Siti yang mulai mengigau.
***
Malam itu, di puncak kedua menara, pesta pora diadakan. Mat Angin merayakan keberhasilannya memblokade logistik, sementara Mat Laut bersulang atas lumpuhnya ekonomi lawan. Mereka saling mengirim surat ancaman yang ditulis di atas kertas wangi, sementara di bawah sana, asap hitam membubung dari pasar-pasar yang dibakar oleh massa yang terprovokasi.
Mat Damai duduk di pinggir jalan yang berdebu, memeluk Siti yang tubuhnya sudah mendingin. Ia melihat ke atas, ke arah cahaya lampu kristal yang berpijar dari kedua menara. Baginya, cahaya itu bukan lagi simbol kemajuan, melainkan api neraka yang membakar masa depan rakyat kecil.
Di Kerajaan Babak Belur, para pemimpin sedang menulis sejarah dengan tinta emas tentang strategi dan harga diri. Namun, mereka lupa bahwa setiap huruf yang mereka tulis, dibayar dengan satu nyawa rakyat yang tak berdosa. Gajah-gajah itu sedang bertarung hebat, dan di bawah kaki mereka, rumput-rumput telah lama mati terinjak-injak menjadi lumpur.
