Di Balik Selat Hormuz: Kekuatan yang Jatuh dan Umat yang Diminta Sadar

Oleh: Sobirin Malian — Dosen FH Universitas Ahmad Dahlan

Peristiwa yang terjadi di Selat Hormuz pada pertengahan 2026 bukan sekadar “konflik militer” biasa. Di balik bentrokan kapal perang dan naik‑turunnya harga minyak, dunia menyaksikan sesuatu yang jauh lebih mendasar: kegoyahan hegemoni global yang selama puluhan tahun dipegang Amerika Serikat dan aliansi Barat. Yang mengejutkan, kekuatan yang dianggap tak tertandingi itu justru terlihat lemah ketika dihadapkan pada satu titik kecil di peta: Selat Hormuz, jalur yang lebarnya hanya sekitar 54 kilometer.

Iran, yang selama ini dipersepsikan sebagai negara terpencil dan terisolasi, melakukan langkah yang sulit diprediksi: ia menutup Selat Hormuz sebagai bentuk perlawanan terhadap serangan dan tekanan AS serta sekutunya. Dengan begitu, satu titik kecil ini menjadi panggung besar bagi perubahan tatanan dunia. Di sanalah, kekuatan militer triliunan dolar Amerika Serikat tampak tidak lagi cukup untuk menguasai jalur yang mengalirkan sekitar 20–30% minyak dunia. Krisis ini bukan hanya menunjukkan limitasi kekuatan AS, tetapi juga membuka ruang bagi kritik terhadap kelemahan politik‑moral umat Islam, khususnya di dunia Arab.

Baca Juga  Menyatukan Semangat Kepahlawanan Modern untuk Indonesia Lebih Baik

Iran dan Selat Hormuz: Kekuatan Sederhana di Titik Strategis

Dari sisi geografi, Selat Hormuz memang sempit, tetapi justru dari situasinya yang “sempit” itu letak kekuatan Iran. Jalur ini menghubungkan Teluk Persia dengan Laut Arab, dan di sekitarnya berdiri pelabuhan‑pelabuhan raksasa penghasil minyak: negara‑negara Teluk seperti Arab Saudi, Uni Emirat Arab, Kuwait, dan lainnya bergantung pada selat ini untuk mengekspor energi mereka ke Asia, Eropa, dan Amerika Serikat. Ketika Iran menutup selat itu, dunia penyuplai minyak langsung terhenyak; harga minyak meroket, jaringan logistik terganggu, dan kepercayaan terhadap stabilitas ekonomi global ikut goncang.

Namun, yang lebih penting daripada fakta statistik adalah bacaan simbolik: satu negara kecil, dengan kapabilitas militer jauh di bawah AS, mampu menahan kekuatan yang sebelumnya dianggap “adidaya”. Ini bukan keberhasilan Iran karena kekuatan brutal, tetapi karena keberaniannya mengambil keputusan politik yang selama ini dianggap “tidak mungkin” oleh kalkulasi realistis Barat. Dalam dunia hubungan internasional, menutup jalur strategis seperti Selat Hormuz biasanya dianggap taruhan terlalu berisiko. Namun Iran menunjukkan bahwa kadang keberanian politik lebih menentukan daripada matematika militer.

Baca Juga  Sengkulak

Sejumlah pakar politik internasional, seperti John J. Mearsheimer dan beberapa analis realist lain, lama menekankan bahwa kekuatan militer tidak selalu menjamin keberhasilan kebijakan luar negeri, apalagi ketika kekuatan itu dihadapkan pada konflik yang sifatnya tidak simetris. Iran tidak mencoba menyamai kapasitas AL AS; ia memanfaatkan geografi sempit, sistem rudal tepi laut, ranjau, dan drone untuk mengubah Selat Hormuz menjadi “zona risiko tinggi” bagi kapal perang lawan. Di sini, AS bukan kalah dalam jumlah senjata, tetapi kalah dalam leverage politik dan keberanian menanggung kehilangan.

AS di Ujung Tanduk: Kekuatan Tanpa Kemampuan

Ketika kekuatan militer AS yang selama ini disejajarkan sebagai “paling kuat dalam sejarah manusia” tampak goyah di Selat Hormuz, dunia menyadari bahwa kekuatan itu tidak selalu sama dengan keberhasilan kontrol. Kapal induk, pesawat siluman F‑35, dan puluhan kapal perusak canggih justru menjadi sasaran empuk jika terlalu dekat ke pantai Iran. Operasi di selat sempit penuh dengan risiko politik; kerugian besar dalam satu hari saja bisa memicu kecaman domestik dan kehilangan dukungan publik di AS sendiri.

Baca Juga  APK Rendah, Apakah Penduduk Berpendidikan Rendah?

Ketika Trump meminta bantuan sekutu untuk mengirim kapal perang ke Selat Hormuz, pesan yang tersampaikan ke dunia justru di luar instrumen militer: itu adalah pengakuan bahwa AS tidak lagi sanggup sendirian menguasai jalur strategis ini. Bagi banyak ahli, seperti Robert Kagan dan beberapa penulis kajian AS, momen ini menandakan fase baru: kekuasaan AS tetap besar, tetapi sudah tidak lagi monopolistis. Dunia kini menghadapi transisi menuju tatanan multipolar, di mana China, Rusia, dan kekuatan regional lainnya bisa mengisi kekosongan yang ditinggalkan AS.

Dalam konteks ini, Selat Hormuz menjadi simbol kecil dari kegagalan kekuatan besar untuk mempertahankan narasi “tak tergantikan” mereka. Hebatnya, kekalahan ini bukan terjadi di medan perang konvensional, tetapi di perang simbolik dan kepercayaan. Kredibilitas AS sebagai penjaga “keamanan laut global” jatuh ketika dunia melihat bahwa AS membutuhkan bantuan untuk menguasai selat selebar 54 kilometer.