Pelideh ini dibuatnya dengan panjang 90 centimeter dan lebar 50 centimeter.

Dengan teliti, Yoelchadir mengolah kayu-kayu tersebut menggunakan peralatan sederhana.

Untuk menjaga detail dan estetika agar menyerupai bentuk aslinya, beberapa ornamen pendukung didapatkan melalui pemesanan daring. Proses pengerjaannya pun dilakukan di sela-sela kesibukan ibadah di bulan suci Ramadan

“Waktu pengerjaan kurang lebih memakan waktu satu bulan. Saya mengerjakannya pada malam hari, biasanya dilakukan setelah menunaikan salat Tarawih,” tambahnya.

Yoel menambahkan, kehadiran miniatur ini bukan sekadar karya seni pajangan.

Ia berharap agar karya kecilnya ini mampu mengetuk hati pemerintah daerah untuk segera merealisasikan pembangunan fisik Rumah Adat Pelideh.

“Mengingat statusnya yang sudah resmi sebagai cagar budaya, keberadaan bangunan fisik rumah adat sangat penting sebagai pusat edukasi, identitas daerah, serta daya tarik wisata budaya bagi generasi mendatang di Bangka Selatan,” tutup Yoel.

Baca Juga  Dihilep Antu