Petaka di Balik Mangkok Kencana
Dana untuk daging sapi segar dipangkas. Mereka menggantinya dengan daging-daging tua yang sudah membusuk dari gudang persediaan militer yang tak terpakai. Beras kualitas super ditukar dengan menir sisa yang sudah bercampur dengan kotoran tikus dan jamur hitam.
Para juru masak, yang bekerja di bawah tekanan jumlah masif dan gaji yang sering menunggak, mulai mengabaikan kebersihan. Kuali-kuali perunggu raksasa tidak pernah disikat hingga berkerak hijau. Air yang digunakan pun diambil dari parit belakang istana yang airnya sudah tak mengalir.
“Rakyat tidak akan tahu,” bisik menteri saat melihat tumpukan daging berbau menyengat disiapkan untuk makan malam. “Cukup beri bumbu yang kuat dan pedas, maka mereka akan mengira ini adalah hidangan mewah.”
***
Malam itu, bulan purnama menggantung pucat di langit Kerajaan Durja. Kerajaan merayakan seratus hari program “Nampan Kemurahan Raja”. Menu spesial disajikan: gulai santan kental dengan rempah gunung yang melimpah. Ribuan rakyat mengantre dengan wajah lesu mereka telah kehilangan martabat, badan mereka kurus karena meskipun gratis, nutrisi makanan kerajaan terus merosot setiap harinya.
Namun, beberapa jam setelah piring-piring itu licin, suara sorak-sorai berganti menjadi paduan suara kematian.
Di jalanan, di gang-gang sempit, hingga ke dalam gubuk-gubuk reyot, rakyat mulai berjatuhan. Rasa mual yang hebat menghantam perut mereka seperti ditusuk ribuan jarum panas. Bakteri dari daging busuk dan racun tembaga dari kuali karat bereaksi seketika. Anak-anak kecil memuntahkan cairan kuning pekat, mata mereka terbelalak menatap langit-langit rumah yang kini tak lagi mengepulkan asap dapur sendiri.
“Perutku… Baginda, perutku panas!” rintih seorang pemuda di depan gerbang istana sebelum akhirnya nyawanya melayang dalam genangan muntahnya sendiri.
***
Hanya dalam waktu tiga malam, sepertiga penduduk Kerajaan Durja tewas. Mereka yang bertahan hidup kini didera trauma hebat terhadap setiap butir nasi yang diberikan pemerintah. Kerajaan yang dulunya makmur kini menjadi kota hantu yang berbau amis dan busuk.
Raja Batok berdiri di balkon istananya. Ia melihat ke bawah, namun tidak ada lagi tangan yang melambai memuja. Ia hanya melihat tumpukan nisan baru dan wajah-wajah rakyat yang penuh dendam serta penderitaan. Program makan gratis yang ia harapkan menjadi monumen kebesarannya, justru menjadi nisan bagi kekuasaannya.
Ia menyadari satu hal yang sudah terlambat: Memberi makan rakyat dengan merampas kemandirian dan kejujuran adalah cara paling halus untuk meracuni sebuah bangsa. Di atas piring emas yang ia suguhkan, ternyata bukan cinta yang ia berikan, melainkan maut yang dibumbui oleh keserakahan.
Kerajaan Durja kini sunyi. Tidak ada lagi asap dapur dari rumah rakyat, tidak ada lagi pasar yang ramai, dan yang paling menyakitkan bagi sang raja tidak ada lagi tepuk tangan. Hanya ada sepi yang dingin, dan bau kematian yang tak mau pergi dari jubah kebesarannya.
