Timelines.id

Media Literasi, Sejarah & Budaya

Rabu, 29 Juli 2026

#Kaum Pecinta Damai

Mesin Tik

Bukan Londo Ireng

Oleh: Kaum Pecinta Damai Kami bukan Londo Ireng pembawa petaka, Yang menjual pena demi segenggam
Di Bawah Bayang Harakiri

Di Bawah Bayang Harakiri

Oleh: Kaum Pecinta Damai Di bawah langit sakura yang gugur perlahan, Pernah ada masa ketika malu
Mana 19 Juta Lapangan Pekerjaan yang Kau Janjikan, Tuan?

Mana 19 Juta Lapangan Pekerjaan yang Kau Janjikan, Tuan?

Oleh: Kaum Pecinta Damai Di atas podium yang megah dan mengkilap, Suaramu lantang, berapi-api
Tuan, Rakyat Menolak Programmu

Tuan, Rakyat Menolak Programmu

Oleh: Kau Pecinta Damai Tuan, lihatlah ke bawah dari kursi megahmu, Rencana indah yang kau susun di
Di Ambang Batas Kehancuran

Di Ambang Batas Kehancuran

Oleh: Kaum Pecinta Damai Lentera negeri kian meredup pasrah, Di atas altar pusaka yang mulai pecah.
Makan Siang Dijarah

Makan Siang yang Dijarah

Oleh: Kaum Pecinta Damai Awalnya adalah janji dalam piring berhias, Tentang gizi yang tumbuh,
Program Makan Bergizi Gratis riuh digemakan, Katanya demi masa depan, demi gizi anak sekolahan. Tapi di dapur warga, asap kian sulit dikepulkan, Kami dipaksa menelan janji yang diracik di atas meja,

Tuan! Uang Itu dari Pajak Kami, Bukan Keringat Nenek Moyangmu

Oleh: Kaum Pecinta Damai Program makanan gratis itu riuh digemakan, Katanya demi masa depan, demi
Mana 19 Juta Lapangan Pekerjaan yang Kau Janjikan, Tuan?

Pemimpin Buta

Oleh: Kaum Pecinta Damai Di atas kursi kokoh yang terbuat dari jati pilihan, Engkau duduk nyaman,
Ketika sang Pengkritik Tak Siap Dikritik: Cermin Retak Ego Manusia

Ketika sang Pengkritik Tak Siap Dikritik: Cermin Retak Ego Manusia

Ketika sang Pengkritik Tak Siap Dikritik: Cermin Retak Ego Manusia Oleh: Kaum Pecinta Damai Dunia
Sarjana di Atas Meja, Sabun di Atas Bak

Sarjana di Atas Meja, Sabun di Atas Bak

Oleh: Kaum Pecinta Damai Di balik jas yang mulai memudar warnanya, Ia berdiri tegak menyeka debu
Luka di Rahim Bumi

Luka di Rahim Bumi

Oleh: Kaum Pecinta Damai Tanah Air tak lagi bersenandung riuh, Ia tersedu, memeluk debu yang kian
Kapur yang Pudar, Janji yang Ingkar

Kapur yang Pudar, Janji yang Ingkar

Oleh: Kaum Pecinta Damai Di atas kertas, ia disebut pencetak bangsa, Namun di dompetnya, hanya ada
Denting Kristal di Atas Perut Lapar

Denting Kristal di Atas Perut Lapar

Oleh: Kaum Pecinta Damai Di Kerajaan Gulasari, kemegahan adalah mata uang utama. Raja Gendut bukan

Mahkota Darah di Atas Tanah Retak

Mahkota Darah di Atas Tanah Retak Oleh: Kaum Pecinta Damai Di Benua Laut, dua penguasa berdiri
Di Kerajaan Astina Pura, bertahtalah Raja Braja yang memiliki kegemaran unik: ia sangat mencintai tepuk tangan.

Petaka di Balik Mangkok Kencana

Petaka di Balik Mangkok Kencana Oleh: Kaum Pecinta Damai Di Kerajaan Durja, bertahtalah Raja Batok
Sudah ditampilkan semua