Oleh: Kaum Pecinta Damai

Di Kerajaan Gulasari, kemegahan adalah mata uang utama. Raja Gendut bukan penguasa yang kejam, namun ia adalah penguasa yang mabuk oleh citra.

Baginya, martabat kerajaan tidak diukur dari kesejahteraan rakyat, melainkan dari seberapa tinggi menara yang bisa dilihat dari kerajaan tetangga.

Pagi itu, di aula pertemuan yang berlapis marmer Carrara, sang raja menggebrak meja jati dengan semangat yang meluap-luap. Di hadapannya, sebuah maket raksasa berdiri gagah.

“Proyek ‘Simfoni Angin Surgawi’!” seru Raja Gendut. “Kita akan memasang sepuluh ribu lonceng kristal di sepanjang perbatasan hutan utara. Bayangkan, setiap kali angin berembus, seluruh kerajaan akan mendengar melodi yang indah. Ini akan menjadi keajaiban dunia yang baru!”

Baca Juga  Hukum di Akhir Zaman

Para menteri bertepuk tangan riuh, seolah-olah baru saja mendengar wahyu. Bendahara Kerajaan segera mencatat angka-angka fantastis: 500 miliar keping emas. Anggaran itu mencakup pengadaan kristal dari negeri seberang, arsitek musik dari benua jauh, dan biaya perawatan harian agar lonceng-lonceng itu tetap berkilau.

“Tapi Baginda,” sela seorang penasihat tua yang mulai rabun, “bukankah itu wilayah yang sering dilanda badai? Lonceng-lonceng itu mungkin akan pecah dalam semalam.”

Raja mengibaskan tangan, meremehkan. “Seni memang berisiko, Penasihat. Dan risiko itulah yang membuatnya mahal.”

***

Dua puluh kilometer dari istana yang berkilau, di sebuah gubuk kayu yang atapnya mulai menyerah pada rayap, Pak Baskoro duduk termenung. Di depannya terdapat secarik kertas slip gaji yang lusuh. Angka yang tertera di sana tidak berubah selama lima tahun: 300 ribu perak.

Baca Juga  Sympnoni

Pak Baskoro adalah seorang guru honorer di sekolah dusun. Ia telah mengajar matematika dan budi pekerti selama dua puluh tahun. Ia adalah orang yang memastikan anak-anak petani bisa berhitung agar tidak ditipu tengkulak, dan memastikan mereka tahu cara menghormati orang tua.

“Pak, penagih koperasi tadi datang lagi,” ujar istrinya pelan, sambil meletakkan segelas teh tawar. “Dia bilang, kalau bunga bulan ini tidak dibayar, sepeda Bapak akan dibawa.”

Baskoro menghela napas panjang. Sepeda tua itu adalah satu-satunya alat transportasinya menuju sekolah. “Berapa utang kita sekarang, Bu?”

“Dua juta, Pak. Itu untuk biaya berobat anak kita bulan lalu dan tambal atap.”

Baskoro memandangi tangannya yang kasar karena kapur tulis. Di televisi tua yang gambarnya sudah bersemut, berita tentang Proyek Simfoni Angin Surgawi sedang disiarkan. Sang Raja tampak tersenyum lebar sambil memegang lonceng kristal yang harganya setara dengan gaji Baskoro selama sepuluh tahun.

Baca Juga  Permata

“Lonceng itu untuk apa, Pak?” tanya anaknya yang masih kecil.

“Untuk menghibur angin, Nak,” jawab Baskoro dengan nada getir yang disembunyikan rapat-rapat.

***