Minggu-minggu berikutnya adalah penderitaan yang dibungkus dengan kemegahan. Truk-truk besar pengangkut kristal melintasi jalanan desa yang berlubang parah. Debu-debu konstruksi menutupi jendela sekolah Pak Baskoro yang kacanya sudah pecah.

Di sekolah, suasana semakin muram. Rekan sejawat Baskoro, Bu Rahma, memutuskan berhenti mengajar untuk menjadi buruh cuci di kota.

“Maafkan saya, Pak Bas,” isak Bu Rahma. “Anak saya butuh susu. Saya tidak bisa memberi mereka makan dengan ‘pengabdian’ dan ‘pahala’ terus-menerus.”

Baskoro hanya bisa mengangguk. Ia sendiri kini sering melewatkan makan siang. Ia mengganjal perutnya dengan air putih agar bisa tetap berdiri tegak di depan kelas, menjelaskan rumus Pythagoras kepada anak-anak yang juga belum sarapan.

Puncaknya terjadi saat peresmian proyek tersebut. Raja Gendut mengundang seluruh bangsawan untuk menyaksikan konser perdana sang angin. Saat pita dipotong, angin berembus kencang. Suara lonceng-lonceng itu memang indah, dentingnya memenuhi angkasa. Namun, dalam hitungan jam, angin berubah menjadi badai kecil. Lonceng-lonceng kristal itu saling bertabrakan, pecah berantakan, dan serpihannya jatuh menjadi sampah tajam yang memenuhi hutan.

Baca Juga  Perihal Pohon Mangga dan Amarilis Layu

Malam itu, anggaran 500 miliar keping emas hancur berkeping-keping di atas tanah.

***

Keesokan harinya, Pak Baskoro berangkat ke sekolah dengan berjalan kaki. Sepedanya sudah diambil penagih utang kemarin sore. Di tengah jalan, ia berpapasan dengan rombongan istana yang sedang meninjau kerusakan lonceng.

Raja Gendut turun dari kereta kencananya, tampak murka melihat kristal-kristalnya hancur. Matanya tak sengaja menatap Baskoro yang tampak lusuh.

“Hei, rakyat! Mengapa wajahmu begitu suram di hari yang agung ini?” tanya Raja tanpa dosa.

Baskoro berhenti. Ia menatap mata sang penguasa, lalu menatap serpihan kristal di pinggir jalan.

“Baginda,” suara Baskoro tenang namun bergetar. “Hutan ini tidak butuh lonceng untuk bernyanyi. Angin sudah punya suaranya sendiri. Tapi anak-anak di sekolah kami butuh guru yang perutnya tidak keroncongan saat mengajar. Kami butuh buku yang tidak robek. Kami butuh atap yang tidak bocor.”

Baca Juga  Pantun Liburan ke Bangka Selatan (Bagian III): Wisata Pantai

Raja terdiam sejenak, alisnya berkerut. “Tapi lonceng itu adalah simbol kemajuan!”

“Simbol kemajuan tidak ada gunanya jika dibangun di atas penderitaan orang-orang yang membangun akal bangsa,” balas Baskoro. “Satu keping kristal yang pecah itu bisa membiayai sekolah kami selama setahun. Sekarang, kristal itu hanya jadi sampah, sementara kami tetap terhimpit utang.”

Raja Gendut terpaku. Untuk pertama kalinya, ia melihat bayangannya bukan di cermin emas, melainkan di mata seorang guru yang hampir kehilangan harapan. Namun, rombongan pengawal segera menarik Raja pergi, mengatakan bahwa jadwal makan siang mewah sudah menanti.

Baskoro kembali berjalan. Di kelas, ia mengambil sepotong kapur kecil sisa terakhir yang ada. Ia menulis di papan tulis:

Baca Juga  Perempuan di Bawah Rintik Hujan

“Keadilan adalah ketika suara perut yang lapar terdengar lebih nyaring daripada denting kristal di menara raja.”

Ia tahu, esok mungkin ia akan kehilangan pekerjaannya karena bersuara. Namun, baginya, mengajar kejujuran jauh lebih penting daripada membiarkan kebohongan yang megah terus berbunyi. Di luar, angin berembus lagi, membawa sisa-sisa suara lonceng yang kini terdengar seperti tangisan pilu di tengah kemiskinan yang sunyi.