Luka di Rahim Bumi
Oleh: Kaum Pecinta Damai
Tanah Air tak lagi bersenandung riuh,
Ia tersedu, memeluk debu yang kian rapuh.
Melihat hamparan zamrud yang kini dipahat serakah,
Sementara rakyatnya berteduh di bawah atap-atap gelisah.
Di atas podium, lidah-lidah perak menari indah,
Menenun kalimat manis agar amarah rakyat mereda.
Namun di balik meja-meja kayu berukir kemewahan,
Nasib jelata hanyalah angka dalam catatan yang terlupakan.
Tanah Air menangis, melihat pundak rakyatnya kian membungkuk,
Memikul beban pajak dan harga-harga yang mencekik rusuk.
Sedangkan mereka yang memegang kemudi asyik bersulang,
Di atas kapal yang oleng, di atas harapan yang mulai hilang.
Halaman
