Luka di Rahim Bumi
“Dahulu kuberikan segalanya agar kalian berdaulat,
Bukan agar kalian menjadi tuan yang menghisap keringat rakyat.
Mengapa kursi itu membuat kalian lupa pada tanah yang kalian pijak?
Mengapa kuasa itu membuat kalian tuli pada rintih yang kian sesak?”
Tiang bendera masih tegak, namun talinya mulai rapuh,
Tergerus oleh ketidakpedulian yang kian menjalar jauh.
Tanah Air tak butuh upacara dan pidato penuh bumbu,
Ia hanya butuh hati yang kembali pulang ke rumah nurani,
Melihat rakyat sebagai nyawa, bukan sekadar komoditas pagi.
Tanah ini masih basah oleh air mata,
Menunggu tangan yang benar-benar memeluk,
bukan sekadar menjabat,
Menanti hari di mana kebijakan lahir untuk menyelamatkan,
Bukan untuk memenangkan mereka yang beruang dan berdaulat.
