Kapur yang Pudar, Janji yang Ingkar
Oleh: Kaum Pecinta Damai
Di atas kertas, ia disebut pencetak bangsa,
Namun di dompetnya, hanya ada sisa-sisa nestapa.
Gajinya lebih rendah dari biaya parkir gedung tinggi,
Tempat para pembuat kebijakan duduk mematung diri.
Ia berangkat saat fajar masih malu-malu,
Menambal sepatu bolong dengan sisa lem kayu.
Di kelas, ia bicara tentang masa depan yang gemilang,
Sambil bertanya-tanya, apakah besok dapur masih bisa berasap tenang?
Isi Piring: Kosong, tersebab janji-janji yang mengambang.
Ruang Sidang: Ramai membahas angka, tapi lupa pada mereka yang di lapangan.
Tuli di Singgasana
Suaranya parau menuntut hak yang seharusnya nyata,
Halaman
