Namun tertimbun tumpukan berkas dan retorika buta.
Pemerintah sibuk bersolek dengan statistik semu,
Menutup mata pada guru yang makan hati karena rindu…
Rindu akan hidup yang layak, bukan sekadar “pahala di surga” yang dipacu.

“Bagaimana mungkin kita berharap anak bangsa terbang tinggi
jika sayap sang pendidik dipatahkan oleh janji yang tak pernah ditepati?”

Ia bukan tak ikhlas mengabdi pada negeri,
Tapi dedikasi tak bisa dipakai membayar listrik yang menagih janji.
Sampai kapan pengabdian dibayar dengan harga yang menghina?
Saat mereka yang berkuasa, kenyang oleh keringat yang dianggap hina.

Sebab pahlawan tanpa tanda jasa,
Bukan berarti harus hidup sengsara selamanya.

Baca Juga  Senandika: Sembilan Hari Tanpa Engkau, Berteman Lagu Cinta Bagian 2