Oleh: Syabaharza

Deretan toples dengan aneka bentuk yang tidak terisi penuh berjejer di meja sederhana yang terbuat dari kayu. Bermacam-macam kue khas hari raya bersemayam dengan tenang dalam toples yang terbuat dari plastik itu. Sekardus minuman mineral berbentuk gelas tergeletak begitu saja di bawah meja. Minuman mineral itu sudah tidak utuh lagi. Kursi mebel yang sudah usang mengelilingi meja kayu tersebut. Tidak ada yang sempurna dari tampilan kursi tersebut. Lobang-lobang menganga sudah menguasai sang kursi, sehingga jika ada yang duduk di atasnya akan terasa pantatnya seperti duduk di sebuah lubang. Karet-karet kursi yang sudah menyembul keluar akan langsung bertemu dengan pantat.

Baca Juga  Daisy, Kapan Nikah?

Suasana pagi itu begitu sumringah. Semua penghuni rumah tampak berbahagia. Semua sudah mengenakan pakaian terbaru mereka. Wajar saja kebahagian itu menghampiri mereka, karena mereka baru saja merayakan hari kemenangan. Kemenangan melawan hawa nafsu selama satu bulan penuh. Kemenangan yang tidak bisa digambarkan dengan kata-kata. Tawa riang terus keluar dari bibir mereka. Senyum tulus penuh kegembiraan tidak pernah putus dari wajah mereka.

Acara sungkeman seadanya baru saja dilakukan keluarga itu. Sungkeman dilaksanakan setelah keluarga itu selesai melaksanakan salat hari raya. Ibadah tahunan yang rutin dilakukan keluarga itu. Ibadah tahunan yang hukumnya sunah namun terasa wajib bagi keluarga itu. Ibadah tahunan yang tidak boleh dilewatkan oleh keluarga itu.

Baca Juga  Dayang Simpur

*****

“Kita salat di rumah saja.”

Seorang lelaki yang merupakan anak sulung dalam keluarga itu mengajak adik-adiknya sambil mempersiapkan beberapa sajadah.

“Kenapa kak?”

Adik laki-lakinya merespons ajakan kakaknya yang dianggapnya sedikit nyeleneh. Betapa tidak selama ini mereka selalu melaksanakan salat hari raya secara berjamaah di masjid.

Sang ibu dan adik-adik yang lainnya tampak saling pandang. Mereka tidak berani untuk menyela percakapan dua kakak beradik itu.

Memang di dalam keluarga itu perkataan yang akan didengar adalah perkataan tiga orang lelaki yang dianggap sudah dewasa, yaitu sang ayah, anak pertama dan anak kedua. Selain itu hanya bisa memberikan saran dan usul saja.

Baca Juga  Ayah

“Jika kita salat di masjid, kasihan melihat ayah.”

Sang adik langsung menoleh ke arah sang ayah yang duduk di atas kursi sambil memegang sebuah tongkat.

“Tapi….apakah boleh salat hari raya di rumah?”

Sambil menghela nafas, sang adik mengeluarkan kekhawatirannya terhadap pelaksanaan salat selain di masjid.

“Boleh dik, memang lebih bagusnya dilaksanakan di masjid.”

“Tapi tidak dilarang juga dilakukan di rumah demi kemaslahatan.”

Sang kakak yang memang pernah belajar di pondok pesantren terus meyakinkan sang adik dengan pengetahuan yang didapatnya selama belajar.