Lebaran Terakhir
Mendapat penjelasan demikian, sang adik segera memberikan isyarat untuk Menyusun sajadah sedemikian rupa. Tidak lupa ia membimbing sang ayah untuk duduk di posisi depan di atas kursi plastik yang sudah disiapkan.
Sudah hampir tiga tahun sang ayah menderita sakit stroke ringan, sehingga hampir selama itu pula sang ayah hanya bisa duduk di kursi. Sang ayah hanya bisa duduk di kursi plastik sederhana karena keluarga itu tidak mampu membeli sebuah kursi roda. Kalau pun berjalan sang ayah harus dibantu oleh tongkat yang selalau menemaninya. Selama masa sakitnya sang ayah selalu tidak melaksanakan salat hari raya, karena anggota keluarga itu salat hari raya selalu di masjid, sehingga tidak memungkinkan sang ayah untuk turut serta.
Alasan itulah yang membuat anak sulung dalam keluarga itu memutuskan tahun ini pelaksanaan salat hari raya dilaksanakan di rumah saja, agar sang ayah bisa ikut merasakan salat hari raya secara berjamaah.
*****
Obrolan ringan namun penuh kehangatan menghiasi keluarga itu. Toples di meja yang tadinya tersusun rapi sudah berpindah tempat. Kue nastar yang menggoda sudah berada di tangan anak bungsu yang sangat lahap menikmatinya. Toples yang berisi kerupuk kulit sudah berpindah ke anak yang tengah, ia sangat senang dengan makanan yang rasanya asin. Kue bolu sudah dihadapi oleh sang anak sulung dan anak nomor dua. Bolu yang tadinya berbentuk lingkaran penuh sekarang sudah tinggal setengah lingkaran. Sementara sang ibu menemani sang ayah dengan sepiring agar. Sang ibu sengaja memilih panganan itu karena giginya sudah mulai habis dan juga untuk menemani sang ayah yang memang sudah habis giginya.
Walaupun sang ayah dalam keadaan sakit, tampak ia berusaha untuk kuat dan ikut tersenyum. Ia tampak bahagia karena melihat keluarganya akur. Ia bahagia karena sudah mampu menunaikan tugasnya sebagai kepala rumah tangga. Ia sudah berhasil mendidik anak-anak. Ia sudah berhasil menghantarkan putra-putrinya ke jenjang pernikahan. Sehingga ia berpikir, kalau pun nanti pada saatnya dipanggil sang maha kuasa, ia sudah ikhlas.
Tak terasa bulir air mata keluar dari mata sang ayah. Tetesan air mata itu mengalir menyusuri pipinya yang sudah keriput. Air mata itu adalah air mata bahagia. Sang ibu yang mengetahui itu segera mengusapnya. Sang ibu tidak ingin anak-anaknya melihat kejadian itu. Walaupun sang ibu tidak tahu maksud air mata itu, namun sang ibu takut jika anak-anaknya salah menafsirkan.
*****
Subuh itu, suasana rumah itu menjadi gempar. Isak tangis bersautan satu sama lain. Semua merasakan kesedihan yang amat dalam. Bacaan surat Yaa Siin bergema beriringan dengan suara tangisan yang semakin kuat.
Di ruang tengah rumah itu tampak kerumunan orang yang sedang mengerumuni tubuh lelaki yang sudah sangat lemah. Tubuh lelaki itu sudah tidak bisa merespons gerak-gerik dan ucapan orang di sekelilingnya. Ada yang berada di dekat kepala sambil berusaha membisikkan kalimat toyibah. Ada berada di dekat badan berusaha membantu sekenanya.
Tubuh yang terbaring itu adalah sang ayah dari keluarga itu. Sang ayah yang sudah lama sakit. Setelah tiga tahun berjuang melawan penyakitnya, tampaknya hari itu ia sudah menyerah. Ia sudah mengibarkan bendera putih dengan penyakitnya. Wajah yang biasanya tetap tersenyum walau merasakan sakit, Subuh itu sudah tidak mampu lagi menghadirkan senyumnya walau sedikit. Tubuh yang dulunya masih berisi, Subuh itu sudah tinggal kulit dan tulang saja. Tangan yang biasanya masih kuat memegang tongkat, subuh itu sudah mulai kaku dan tidak bisa digerakkan lagi.
Perlahan tapi pasti waktu itu datang menghampiri. Tampaknya subuh itu adalah waktu yang sudah disepakati antara sang ayah dan sang pencipta untuk kembali bertemu. Dalam hitungan detik akhirnya sang ayah menghembuskan nafas terakhirnya. Semua keluarga bertambah histeris setelah mengetahui sang ayah sudah pergi untuk selamanya. Namun di balik kesedihan itu tampak ada keikhlasan dari keluarga untuk melepas kepergian sang ayah. Mereka yakin ini adalah takdir sang pencipta. Mereka yakin sang ayah sudah tidak merasakan sakit lagi dan mereka yakin sang ayah sudah tenang di sana. Suasana subuh yang biasanya ceria, berubah menjadi suasana duka yang mendalam.
*****
Hari itu, lebaran kembali menyapa. Lebaran yang terasa berbeda bagi keluarga itu. Lebaran penuh kehilangan. Lebaran penuh kesedihan. Memang toples-toples masih tersusun rapi di atas meja kayu. Isinya pun masih sama dengan lebaran tahun lalu. Air mineral gelas juga masih ada menemani kue-kue yang ada di toples. Namun ada yang berkurang pada lebaran tahun itu. Tidak ada sosok seorang lelaki yang duduk di kursi plastik dengan tongkat di tangannya. Tidak ada lagi senyum manis dari laki-laki tua yang sedang sakit. Tidak ada lagi nasehat-nasehat yang dilontarkan sang ayah.
Ternyata lebaran tahun lalu merupakan lebaran terakhir bagi sang ayah. Ternyata salat hari raya yang dilaksanakan di rumah mereka itu adalah salat hari raya terakhir bagi sang ayah. Ternyata senyuman manis pada lebaran tahun lalu merupakan senyuman terakhir sang ayah. Dan ternyata momen suapan sang ibu pada lebaran tahun lalu merupakan suapan terakhir pada sang ayah.
Kini hanya pusara yang bertuliskan nama sang ayah menjadi saksi kesedihan keluarga itu. Kini hanya pusara yang bisa dikunjungi oleh keluarga itu untuk sekedar melepas rindu kepada ayah mereka. Sang ayah itu kini sudah bahagia menghadap sang penciptanya. ***
Bionarasi Penulis
Syabaharza adalah nama pena dari Syamsul Bahri Arza. Ia adalah Kepala MTs Al-Hidayah. Putra asli Pelabuhan Dalam Pemulutan ini sekarang tinggal di Desa Keposang Kecamatan Toboali Bangka Selatan, Kepulauan Bangka Belitung. Ia bisa dihubungi di [email protected]
