Oleh: Agus Bachtiar. K — Sang Peramu Aksara

Kemajuan teknologi digital akhir-akhir ini telah “merasuki” hampir semua sektor kehidupan manusia. AI (Artificial Intelligence) atau dalam bahasa Indonesia diartikan sebagai kecerdasan buatan,  yaitu simulasi kecerdasan manusia yang dimodelkan dalam mesin dan diprogram untuk  berpikir, belajar, bernalar, serta memecahkan masalah layaknya seorang ahli. AI dapat memproses berbagai data dalam jumlah besar untuk mengenali pola dan memberikan berbagai solusi yang dibutuhkan manusia. Beberapa contoh dari aplikasi berbasis AI yaitu Chat GPT, Gemini, Dola dan masih banyak lagi.

Sepintas, semua aplikasi yang ada saat ini sangat membantu dan mempermudah kehidupan kita. Namun, perlu kita sadari bahwa AI hanyalah alat bantu buatan manusia dan bukan rujukan utama dalam berkarya. Dalam dunia kepenulisan khususnya sastra,  AI semestinya tidak  dijadikan sebagai referensi tunggal dalam menciptakan sebuah karya.  Cobalah, sejenak kita amati hasil dari tulisan  yang dihasilkan oleh AI.

Baca Juga  Merek Dagang: Lebih dari Sekadar Simbol, Identitas, dan Perlindungan Masa Depan

Menurut pengamatan saya, karya yang dihasilkan oleh AI cenderung normatif, terlalu sistematis dan tidak ada “roh” di dalamnya. Bagi saya pribadi, fenomena tersebut merupakan kemunduran dalam bidang tulis-menulis saat ini. Kreativitas, imajinasi, gaya bahasa, muatan lokal dan apresiasi terhadap kearifan lokal menjadi ”tercemar” karena  “diserang” oleh elemen-elemen global yang mendominasi otak si AI.

Karya satra dan tulisan-tulisan “hambar” saat ini bertaburan di berbagai platform. Rasanya patut disayangkan, sastra yang dahulu adalah buah budi dan pikiran manusia sejati, saat ini menjadi barang instan yang tidak terlalu bernilai karena dihasilkan oleh pikiran robot yang pastinya tak mempunyai kehalusan budi pekerti dan perasaan. Beberapa menit saja kita sudah bisa menghasilkan karya berjilid-jilid. Pertanyaan besanya adalah : Apakah itu bukan sebuah omong kosong dan kebohongan semata?

Baca Juga  Rusip

Setelah dimanjakan oleh AI, bagaimana nasib originalitas karya saat ini dan waktu yang akan datang? Sebagai insan yang masih harus terus banyak belajar, saya tidak menolak kemajuan teknologi saat sekarang. Bagaimananpun juga, naluri manusia akan selalu mencari kemudahan dalam hidupnya.

Saya hanya merindukan saat-saat di mana membaca adalah sebuah “ritual mulia” bagi manusia yang haus akan ilmu pengetahuan dan keindahan sastra. Dan di saat yang sama kita merasa terkagum-kagum pada karya-karya penulisnya. Sebut saja Mochtar lubis dan Sofyan Lubis yang buah karyanya mampu membuat kita larut dan terbawa dalam alam imaji yang menegangkan sekaligus mencengangkan, WS. Rendra dengan puisi-puisinya yang membakar semangat untuk mengkritisi ketidakadilan rezim, Taufiq Ismail yang selalu berhasil menghantam ketidakwarasan manusia berakal, atau Sapardi Djoko Damono yang pernah mengobrak-abrik perasaan kita dengan rangkaian diksi-diksi indahnya.

Baca Juga  Lima Panggilan Tak Terjawab